Pemkab Buleleng Fokus  Pembangunan Sektor Pertanian

24
Konsultasi Publik dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Buleleng tahun 2017-2022 di Hotel Banyualit, Lovina, Rabu (20/12). (ira)

Singaraja (Bisnis Bali) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) menggelar Konsultasi Publik dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Buleleng tahun 2017-2022 di Hotel Banyualit, Lovina, Rabu (20/12).

Konsultasi Publik dan Musrenbang RPJMD tahun 2017-2022 bertujuan untuk menyampaikan rancangan awal RPJMD. Selain itu, kegiatan itu juga ditujukan untuk menjaring aspirasi publik dan stakeholder terkait Pembangunan Daerah untuk menyempurnakan RPJMD Kabupaten Buleleng tahun 2017-2022. Peserta dari Konsultasi Publik melibatkan semua komponen

stakeholder atau pemangku kepentingan pembangunan, LSM, Organisasi, Pimpinan BUMN/BUMD, serta tokoh-tokoh masyarakat, sedangkan untuk peserta Musrenbang RPJMD melibatkan Kepala SKPD, Sekretaris SKPD, Kepala Subbag Perencanaan, Tim Penyusun Resantra dan staf teknis SKPD.

Sesuai program yang dicetuskan oleh pasangan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST dan Wakil Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG diperiode kedua ini akan fokus terhadap pembangunan dunia pertanian dari hulu hingga hilir, sehingga penyusunan RPJMD ini lebih menitikberatkan pada sektor pertanian.

Ditemui usai pembukaan Konsultasi Publik dan Musrenbang RPJMD tahun 2017-2022, Kepala Badan Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Buleleng, Ir. Gde Dharmaja, M.Si. mengatakan, penyusunan RPJMD tahun 2017-2022 merupakan lanjutan dari RPJMD tahun 2012-2016 yang belum sepenuhnya digarap.

Dharmaja menjelaskan, walaupun penyusunan RPJMD kali ini fokus pada sektor pertanian, namun tetap tidak menyampingkan sektor lain seperti infrastruktur jalan, Kesehatan, dan Pendidikan yang tetap harus ditingkatkan. Ia menambahkan, selama ini kelemahan pertanian di Kabupaten Buleleng ada pada kurangnya pemahaman petani akan kebutuhan pasar.

“Pada prinsipnya pengembangan sektor pertanian ada pada pemberdayaan pertanian dan petani itu sendiri dan mengembangkan potensi yang ada. Pertanian kita di Buleleng grafiknya sudah naik dan masih bisa ditingkatkan lagi. Seperti yang dikatakan Bapak Bupati tadi, bahwa kita tidak cukup hanya menghasilkan pertanian begitu saja, namun juga harus mencari aspek pasar agar mendapatkan harga yang baik,” jelasnya. (ira)