Tabanan (Bisnis Bali) – Eksportir manggis Indonesia termasuk Bali tengah bergembira saat ini. Ekspor manggis dengan tujuan langsung ke Tiongkok yang sebelumnya harus melalui pihak ketiga, kini sudah bisa langsung ketujuan setelah pertemuan bilateral Indonesia-Cina yang dilaksanakan di Kantor Pusat AQSIQ beberapa waktu lalu.

Salah seorang petani sekaligus eksportir manggis, Jero Putu Tesan, di Desa Padangan,Kecamatan Pupuan Tabanan, Kamis (21/12) mengungkapkan, pertemuan bilateral yang dilaksanakan pada Senin (11/12) dihadiri oleh delegasi RRT dengan ketua Mrs Li Yijuan dan delegasi Indonesia dengan Ketua Dr, Antarjo Dikin yang merupakan Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Barantan.

Imbuhnya, dalam pertemuan tersebut dibahas kesepakatan operasional untuk ekspor buah manggis dari Indonesia ke Tiongkok.

“Kedua pihak menandatangani dokumen impor protokol ekspor buah manggis dari Indonesia ke Tiongkok. Ini menjadi peluang besar bagi para eksportir dan rumah kemas buah manggis yang telah diregister Badan Karantina Pertanian untuk memasuki pasar Tiongkok. sepanjang mengikuti standar kesehatan tumbuhan dan keamanan pangan dari AQSIQ, Tiongkok,” tuturnya.

Jelas Tesan yang juga Ketua Asiasi Manggis Indonesia, beranjak dari kerjasama bilateral tersebut eksportir manggis lokal bisa segera mengimplementasikan packing house di seluruh Indonesia yang sudah teregistrasi, sekaligus untuk menopang kerjasama tersebut terkait kualitas produk.

Di sisi lain, akuinya kerja sama tersebut juga membuat prospek manggis di dalam negeri menjadi sangat menjanjikan. Sebab, 80 persen kebutuhan manggis di Tiongkok bersumber dari Indonesia yang selama ini harus dikirim melewati pihak ketiga, yakni Vietam, Malaysia, dan Thailand.

“Kami sangat hargai keberhasilan dari upaya pemerintah Indonesia untuk perdagangan ekspor manggis ini, meski ini baru berhasil setelah diupayakan sejak lima tahun lalu,” ujarnya.

Sementara itu, selain buah manggis, pertemuan bilateral ini juga menjajagi kemungkinan ekspor nenas dan buah naga Indonesia ke Tiongkok. Sementara itu, untuk ekspor salak dan sarang burung walet yang telah habis masa import protokol dan pengakuannya, pihak Tiongkok menjamin dapat terus dilanjutkan.(man)