Tahun ini bisa jadi tahun yang terberat bagi sejumlah petani di Bali. Betapa tidak, tahun ini petani secara umum dihadapkan pada ancaman bakteri hingga dampak dari erupsi Gunung Agung. Akibatnya, harga berbagai bahan pangan cenderung bergejolak, bahkan tak pelak membuat pelaku usaha mengalami kerugian, karena tak seimbangnya biaya produksi dengan harga jual yang dinikmati. Apa saja bahan pangan yang terdampak?

SELAIN menjadi daerah tujuan wisata dunia, Pulau Dewata juga masih memiliki potensi sebagai sentra pertanian secara umum. Sentra pertanian ini menyebar di sejumlah kabupaten/kota dengan berbagai komoditas. Namun belakangan, sektor pertanian di Bali mengalami pukulan yang cukup berat.

Awal 2017, pukulan terberat dirasakan oleh peternak babi yang harus rela merugi akibat kasus merebaknya bakteri meningitis streptococcus suis (MMS). Kemunculan bakteri MSS yang diduga ditularkan oleh babi, membuat harga babi terjun bebas di pasaran seiring dengan menurunnya permintaan pasar saat itu. Harga babi di tingkat peternak yang normalnya di kisaran Rp 28.000 per kg, dengan adanya kasus MMS membuat beberapa peternak harus rela merugi karena hanya bisa mengantongi penjualan Rp 26.000 per kg.

Menurut Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Prof. Dr. Ir. Nyoman Suparta, M.S., M.M. mengungkapkan, bakteri MMS merupakan hal baru yang sebelumnya belum pernah muncul. Sebelumnya, masyarakat Bali memang sempat dihebohkan dengan bakteri pada babi, namun jenisnya septicemia epizootica (SE).

Paparnya, dulu bakteri SE tidak seberbahaya dibandingkan bakteri MSS saat ini. Sebab, bakteri SE tidak menyebar kepada manusia, sedangkan MSS penyebarannya terjadi hingga menyerang otak dan saraf pada manusia, sehingga sangat berbahaya atau sama berbahayanya dengan kasus anthrax pada sapi yang pernah ada sebelumnya. (man)