Musim Hujan, Tanaman Stroberi perlu Perawatan

86

SELAIN dikenal sebagai pusat pertanian holtikultura seperti berbagai jenis sayur dan buah, kawasan Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng juga menjadi objek wisata petik khususnya buah stroberi. Karenanya, tidak diragukan lagi, sejumlah petani cukup bergantung pada sektor pertanian yang satu ini karena peluangnya cukup menjanjikan.

Namun di sisi lain, saat memasuki musim hujan beberapa faktor harus dicermati untuk meminimalisasi kerugian tatkala produksi mengalami penurunan.

Seperti pada tanaman stroberi, selain bakteri dan hama, musim hujan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan menurunnya produksi buah stroberi. Air hujan dapat menyebabkan tanaman stroberi rusak dan layu. Kondisi ini membuat banyak tanaman stroberi tidak berbuah. Saat memasuki musim hujan tepatnya mulai Oktober hingga April, panen atau produksi tanaman buah stroberi hanya 60 persen dibandingkan pada musim kemarau.

Hal ini diakui Wayan Seria, salah satu petani dari Kelompok Tani Bali Buyan Berry di kawasan Desa Pancasari Buleleng ketika diwawancarai Bisnis Bali beberapa waktu lalu.

Ia mengungkapkan, saat musim kemarau atau memasuki musim panen stroberi mengalami overproduksi. Dia bisa memanen stroberi mulai 800 kg hingga 2 ton per harinya. Pada musim hujan seperti sekarang ini, dirinya hanya mampu memanen 200 kg stroberi. “Itu pun dari hasil panen yang kita dapatkan, sementara yang siap dipasarkan hanya 60 persennya. Sisanya ada yang rusak dan lecet karena hujan,” tuturnya.  (ira)