BPTP Gelar ‘’FGD’’ Perspektif Pengembangan Pertanian Bio Industri di Provinsi Bali

171

Denpasar (Bisnis Bali) – Balai besar pengkajian teknologi pertanian (BPTP) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) untuk melihat proses serta mendapatkan masukan terhadap pengembangan model pengembangan pertanian bio industri di Bali, bertempat di gedung BPTP Bali, pada Rabu (20/12).

Pertanian bio industri adalah suatu model pertanian yang mengoptimalkan peran mikroba tiap proses produksinya.  Model pertanian bio industri menjadi program unggulan BPTP yang tercantum dalam Rencana Strategis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2015-2019.

Di Bali dikembangkan dua model pengembangan pertanian bio industri yaitu, model pertanian bio industri lahan kering medium beriklim basah di Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan dan model pertanian bioindustri lahan kering dataran rendah beriklim kering di Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng.

Acara FGD dihadiri oleh Sekretaris Bappelitbang Kabupaten Tabanan, tiga Kepala Bidang Dinas Pertanian, BP3K Kecamatan Baturiti, PPL Desa Antapan, serta petani koperator dari Desa Antapan, sedangkan dari Kabupaten Buleleng dihadiri oleh BP3K Kecamatan Kubutambahan, PPL dan petani koperator Desa Bukti.

Sementara, dari tingkat provinsi dihadiri UPT Pertanian Terpadu Dinas TPH Bun.

FGD bertujuan untuk melihat proses serta mendapatkan masukan untuk pengembangan dan keberlanjutan model yang dikembangkan.

Pada pelaksanaan FGD disampaikan progres report dari pelaksanaan model pertanian bio industri di Bali oleh Kepala BPTP Bali Dr. drh. I Made Rai Yasa, MP dan ketua tim FGD Balai Besar Pengkajian, Ir. Rachmat Hendrayana, M.Sc., serta memberikan materi perspektif pengembangan pertanian bio industri di Provinsi Bali.

Disampaikan, indikator umum keberhasilannya adalah menghasilkan keuntungan secara finansial kepada pelaku kegiatan, menghasilkan manfaat ekonomi bagi lingkungan dan terjadi kesimbangan bio massa, sedangkan indikator keberhasilan spesifik seperti keterlibatan petani, luasan, menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen, mengadopsi teknologi modern, menghasilkan nilai tambah, prediksi kemandirian dan menunjukkan keunggulan kompetitif.

Berbagai masukan disampaikan peserta FGD yang intinya menyatakan perlunya memperbanyak percontohan di tingkat lapang dan mereka berkomitmen memberikan dukungan dalam pengembangan dan penyempurnaannya serta pendampingan berkelanjutan oleh BPTP Bali.

Wayan Widana, selaku Ketua Kelompok Setia Makmur Desa Antapan mengharapkan, model pertanian bio industri di wilayahnya dapat dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata sehingga pendapatan petani lebih meningkat lagi.

‘’Apabila Pemda ingin mengembangkan model pertanian bio industri, silahkan melakukan replikasi dan BPTP berperan sebagai pendamping,’’ ungkap Rachmat Hendrayana dalam diskusi yang dilakukan.

Sementara Ka BPTP Bali menyatakan komitmennya untuk terus mendukung Pemda dalam menyempurnakan dan Model Pertanian Bio Industri yang sudah ada.  Lebih lanjut Ka Balai mengatakan, model ini sangat ideal untuk penanganan kemiskinan sehingga dibutuhkan sinergitas semua komponen stakeholders dalam mendukung pengembangannya. (ad2.255)