Mangupura (Bisnis Bali) – Kalangan perbankan pada tahun ini optimis penyaluran kredit masih mampu tumbuh 9-12 persen. Kendati demikian, perbankan juga menerapkan berbagai cara untuk mengerem rasio kredit bermasalah agar tidak tinggi tahun ini.

Manajer dana bank nasional, Yuliani di Kuta mengatakan, kendati rasio kredit bermasalah tidak sampai batas 5 persen, berbagai upaya menekan risiko terus dilakukan, karena penting bagi bank agar tidak ada masalah ke depannya.

“Upaya bank selain menerapkan kehati-hatian dalam pemberian kredit, jika ada nasabah yang mulai tampak ada masalah dilakukan pendekatan secara persuasif,” katanya.

Pendekatan itu secara kekeluargaan dengan komunikasi untuk mencari permasalahan debitur di mana dan segera dicarikan pemecahannya agar tidak sampai kredit macet. Dengan pendekatan persuasif terbukti kredit bermasalah mampu ditekan tidak sampai menyentuh 3 persen.

Sementara pemerhati perbankan, Dr. Irawan mengatakan, perbankan tahun ini diprediksi akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Perbankan akan memilih sektor kredit yang memiliki tingkat kredit bermasalah sangat rendah sehingga bisa meredam laju NPL. Tak kalah penting perbankan juga akan memperbaiki sistem manajemen risiko kredit, proaktif merestrukturisasi kredit yang berpotensi bermasalah hingga sudah berstatus NPL.

“Intinya sesuai arahan OJK yaitu penerapan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit,” katanya. (dik)