Pelestarian Lingkungan di Ajang NPF 2017

30
istBupati Suwirta yang sedang menanam pohon mangrove di Mangrove Point, Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan

Semarapura (Bisnis Bali) – Tidak hanya menyongsong pelestarian terhadap budaya nenek moyang, kemeriahan Nusa Penida Festival juga diikuti dengan kegiatan pelestarian lingkungan mulai dari bersih-bersih pantai, transplantasi terumbu karang hingga penanaman mangrove. Selain untuk mendukung keindahan sektor pariwisata setempat, kegiatan ini juga bertujuan untuk mencegah kerusakan pulau kecil yang merupakan wilayah Kabupaten Klungkung ini.

Berbagai kegiatan pelestarian lingkungan yang dipimpin langsung Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta ini berlangsung di sekitar Pantai Mahagiri, Desa Jungutbatu, Nusa Lembongan, Jumat (8/12).

sejumlah siswa yang ikut terlibat dalam kegiatan bersih-bersih pantai pada NPF 2017, di Pantai Mahagiri, Desa Jungutbatu, Nusa Lembongan (wid)

Tidak ketinggalan pula siswa SMP dan SMA pun dikerahkan dalam kegiatan ini, di samping para pelaku pariwisata yang turut serta mendukung kegiatan ini.

Di sela-sela acara, Bupati Suwirta mengatakan, kegiatan seperti ini sangat perlu dilaksanakan guna mendukung keindahan pariwisata dan tentunya menjaga keutuhan pulau kecil ini baik dari sisi abrasi ataupun kerusakan lingkungan lainnya. Seperti hanya terumbu karang yang saat ini dikatakannya kerusakan sudah cukup siginifikan, bahkan fakta di lapangan, transplantasi terumbu karang jauh lebih kecil, daripada kerusakan. “Kalau itu dibiarkan, tentu daya tarik utama yang ada di Nusa Penida ini akan hilang dan pariwisata tidak dikunjungi lagi. Dengan demikian, sangat perlu diadakannya kegiatan yang mampu memulihkan kembali terumbu karang,” katanya.

Khusus untuk penanaman pohon mangrove, yang selain untuk mencegah abrasi, juga mampu untuk mengimbangi gas karbon serta jenis asap lainnya yang dihasilkan di desa Jungutbatu dan sekitarnya. “Pulau Lembongan sendiri terdapat 224 kilomereter persegi hutan mangrove, dan di tengah hutan tersebut masih banyak celah yang harus ditanami.

Jika tidak ada hutan ini, bisa saja pulau sudah habis terkikis oleh abrasi,” ungkapnya.

Disingung soal keadaan hutan mangrove di Pulau Lembongan ini, Bupati Suwirta mengatakan, pengelolaan hutan mangrove ini direncanakan untuk dikelola oleh desa adat, yang khusus di Desa Lembongan sebelumnya statusnya ada di Menteri Kehutanan dan saat ini telah dilakukan pendekatan serta mendapat lampau hijau untuk dikelola masyarakat. Untuk hutan mangrove yang ada di wilayah Nusa Ceningan, pihaknya menyarankan agar ke depannya dibentuk pula kelompok-kelompok untuk membuat tambak udang, kepiting, dan bandeng, untuk melengkapi kebutuhan masyarakat ataupun pengusaha di Nusa Lembongan ini, sehingga tidak perlu mendatangkan dari luar.

“Kami juga inginkan agar tidak semua masyarakat hanya menyasar sektor wisatanya saja, seperti membuat vila, restoran dan sebagainya, namun juga ada yang mengambil sektor-sektor lain yang mendukung sektor pariwisata. Dengan demikian, akan benar-benar menjadi kebutuhan yang terintegrasi, ada yang suplai seafood demikian pula pemeliharaan lingkungannya, termasuk sampah ada yang menangani,” ungkapnya.

Demikian pula Bupati Suwirta mengharapkan, kegiatan yang seperti ini harus rutin dilaksanakan, yang tidak hanya pada pelaksanaan festival, namun juga dalam keseharian yang secara bersama-sama untuk menjaga lingkungan. “Kami mengajak seluruh masyarakat stakeholder atau para pengusaha untuk selanjutnya kegiatan seperti ini bisa dilakukan. Kami sangat tidak mengharapkan karena kesibukan masing-masing, lingkungan

terlupakan, yang nantinya jadi mati, dan di sana akan menjadi saling menyalahkan,” katanya. (ad826)