Bisnis Properti ”Lesu Darah” Pebisnis perlu Berkaca dari Siklus 5 Tahunan

164
SIKLUS - Pengembang perlu memahami siklus lima tahunan bisnis properti sehingga menyikapi situasi lesunya penjualan saat ini para pengembang bisa mengambil langkah - langkah strategis agar terhindar dari risiko bangkrut. 

Pada 2017 ini, bisnis properti bisa dikatakan mengalami lesu darah. Banyak indikator penyebabnya hingga tak sedikit pebisnis properti yang rontok. Menyikapi kondisi ini, langkah selektif dan hati-hati dalam mengembangkan proyek baru pun disebut-sebut merupakan strategi penting yang harus dilakukan. Pebisnis properti dinilai perlu berkaca dari siklus lima tahunan yang terjadi di Indonesia. Apa itu?

DALAM beberapa tahun belakangan tren perkembangan bisnis properti mengikuti siklus lima tahunan.  Dimulai dari tahun 1998 ketika terjadi kerusuhan di Indonesia khususnya di Jakarta.

Kerusuhan dipicu oleh beberapa kondisi dan kejadian seperti krisis moneter yang berujung pada krisis ekonomi di Indonesia dan krisis finansial di Asia yang menyebabkan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar merosot drastis. Pemicu lainnya adalah peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang berujung lengsernya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Krisis ekonomi menyebabkan masyarakat kehilangan daya beli termasuk daya beli terhadap properti sehingga pasar properti mengalami stagnasi.

Kondisi ini diperparah oleh buntut kerusuhan yang menyebabkan banyak orang yang ingin menjual propertinya di Indonesia, tetapi masalahnya adalah pembeli properti yang langka sehingga harga properti anjlok, ujung-ujungnya banyak pasokan properti yang tidak terserap pasar, proyek mangkrak karena tidak ada pembeli.

Kendati begitu, pasar properti mulai membaik di tahun 2000 dan mencapai puncaknya di tahun 2002 dan 2003 yang ditandai dengan harga properti melambung tinggi. Siklus alamiah pun terjadi, harga yang sudah melambung tinggi menyebabkan tidak ada lagi orang yang sanggup membeli sehingga selanjutnya harga properti kembali turun. Selanjutnya krisis tahun 2008 memicu crash. Puncaknya adalah ketika terjadi krisis ekonomi jilid 2 tahun 2008 yang dipicu oleh krisis ekonomi global sebagai rentetan akibat dari krisis ekonomi di Amerika Serikat (AS) yang dipicu oleh kredit perumahan beresiko tinggi (subprime mortgage). Krisis ekonomi di AS itu menjalar ke seluruh dunia karena negeri Paman Sam itu merupakan konsumen bagi banyak produk dari seluruh dunia.

Negara pengekspor produk ke AS mengalami krisis hebat karena kegiatan ekspor harus terhenti, krisis di negara pengekspor itu menyebabkan rencana investasi di Indonesia banyak yang urung terjadi, mau tak mau Indonesia turut merasakan dampak krisis ekonomi dunia dan Amerika. Krisis ekonomi memukul seluruh sektor ekonomi tak terkecuali sektor properti. Karenanya, tahun ini pasar properti nasional kembali tertekan. Penjualan properti mengalami penurunan yang signifikan. Bagaimana kondisi properti tahun 2009-2010? Sepanjang tahun 2009, pasar properti tidak terlalu mengalami peningkatan sampai tahun 2010. Namun, kondisi pasar properti kembali membaik lagi pada 2011 karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,5 persen. Pertumbuhan ekonomi yang membaik memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan beli masyarakat termasuk kemampuan beli terhadap properti. Tahun 2012 dan 2013 adalah tahun booming properti sehingga penjualan properti mencapai puncaknya tahun 2012 dan 2013. Selain tingkat pertumbuhan ekonomi yang membaik, rendahnya suku bunga kredit juga turut memicu bergairahnya penjualan properti, tak lupa penyebab lainnya adalah meningkatnya jumlah kalangan menengah yang sanggup membeli properti.   asriman.com. (gun)