Lestarikan Budaya, Tari ’’Sang Hyang Jaran’’ Pukau Wisatawan

23
Pementasan tarian Sang Hyang Jaran pada acara Nusa Penida Festival 2017. (wid)

Semarapura (Bisnis Bali) – Berbagai atraksi kesenian yang dipentaskan dalam Nusa Penida Festival (NPF), mampu tarik minat masyarakat. Salah satunya Tari Sang Hyang Jaran yang dipentaskan pada malam pertama NPF, Rabu (6/12) lalu. Pementasan tari yang tergolong sakral ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, namun juga wisatawan yang sedang berlibur di Nusa Lembongan.

Tari Sang Hyang Jaran yang dipentaskan oleh sekitar sepuluh (10) orang penari tersebut, tampak sangat unik. Dengan mengenakan pakaian merah dan putih ditambah udeng terbalik, kesepuluh penari menunggangi properti menyerupai kuda yang dilengkapi dengan lonceng. Pada saat sebelum pementasan, ketua kelompok penari Sang Hyang Jaran Desa Jungutbatu, Guru Mirah Maharani, menjelaskan, tarian Sang Hyang Jaran merupakan tarian klasik dan sakral asli Nusa Lembongan. Berdasarkan sumber lontar di Desa Jungutbatu, tarian Sang Hyang Jaran ini telah ada sejak tahun 1894 masehi. Dan diceritakan tentang asal muasal tari Sang Hyang Jaran, yaitu konon waktu itu, Kepulauan Nusa Penida dikenal sebagai lokasi untuk menampung orang-orang terbuang di setiap kerajaan di Bali.

“Ada seorang pendeta bernama Ida Pedanda Gede Punia yang berasal dari Bangli. Beliau ketika itu tidak diharapkan di wilayahnya dan dibuang ke Nusa Penida,” tuturnya. Setelah tiba di Pulau Nusa Gede, Ida Pedanda Gede Punia ternyata tidak diterima oleh Jero Mekel di desa-desa di sekitar Pulau Nusa Gede. Sehingga, Ida Pedanda Gede Punia harus berlayar hingga ke Pulau Nusa Lembongan. Kehadiran orang suci asal Bangli ini pun diterima dengan baik oleh Jero Mekel di Desa Lembongan yang saat itu, yakni I Komang Jungut. Setelah diterima dengan baik oleh masyarakat, Ida Pedanda Gede Punia lalu mengembangkan kesenian sakral Tari Sang Hyang Jaran ini di Nusa Lembongan.(wid)