Erupsi Gunung Agung telah memberi dampak pada sektor pariwisata di Bali. Melesunya sektor pariwisata yang menjadi pendukung utama perekonomian Bali, tentu memberi imbas pula terhadap sektor lain. Apa saja sektor lain tersebut?

MENURUNNYA jumlah kunjungan pariwisata ke Bali, tidak hanya berimbas pada sektor usaha terkait seperti penerbangan, perhotelan hingga restoran, namun juga memberi dampak pada sektor pendukung lainnya seperti pertanian hingga UMKM. Pangsa pasar dari produk pertanian dan UMKM tersebut juga menyasar sektor pariwisata baik itu pendukungnya seperti hotel dan restoran, hingga wisatawan itu sendiri untuk keperluan cenderamata.
Mulai dari sektor UMKM, salah satu sektor UMKM yang terdampak adalah pemasaran produk kulit seperti sepatu, tas, sandal dan sebagainya yang juga mengandalkan sektor pariwisata. Salah seorang perajin produk kulit, di Jalan Marlboro Denpasar, Ibu Amer, belum lama ini menyampaikan, pemasaran produknya yang kebanyakan menyasar pedagang di wilayah Kuta, kian tersedat. Hal senada juga diungkapkan pedagang produk kulit lainnya, Hj. Sudiro. “Lesunya pemasaran produk kulit sudah mulai terjadi dari dua tahun terakhir. Adanya erupsi Gunung Agung yang membuat kunjungan wisatawa menurun, lebih memperparah keadaan yang membuat pemasaran produk kami sangat sepi untuk saat ini,” ungkap Hj. Sudiro.
Demikian juga sektor pertanian, yang beberapa hasil pertanian seperti sayur dan buah juga terdampak. Salah seorang pengepul sayuran, Dewa Putu Wimpie Wardhiana, mengatakan saat ini suplai sayuran terutama ke hotel berbintang menurun yang angka penurunannya mencapai 30 persen. “Kalau untuk restoran masih cukup stabil pengirimannya, karena kemungkinan masyarakat lokal juga menjadi konsumen. Namun yang paling terasa menurun drastis yaitu pada hotel-hotel bintang 5 di Bali,” ungkapnya.
Terkait situasi ini, pengamat ekonomi, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M., menuturkan, lesunya perekonomian tidak hanya terjadi di wilayah-wilayah terdampak, yang masyarakat tersebut tidak memiliki penghasilan dalam waktu lama sehingga tidak ada pertumbuhan ekonomi. Selain itu lembaga keuangan pada wilayah tersebut juga akan terdampak pada kredit macet.
Dia menuturkan, dibatalkannya beberapa penerbangan dan hotel pada akhir tahun ini, tentu akan berakibat pada akan terkoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi triwulan IV ini. “Dengan ini, penyerapan tenaga kerja akan terjadi penurunan, karyawan tidak akan dapat bonus, jasa pelayanan dan beberapa sudah terjadi saat ini. Kalaupun Gunung Agung meletus, tetapi tidak terjadi pembatalan penerbangan, mungkin tidak terlalu serius dampaknya,” ungkapnya. (wid)