Angka Pertumbuhan Kinerja BPR di Bali Turun

19
BPR - Rangkaian acara Evaluasi Kinerja BPR/BPRS Provinsi Bali 2017 dan Outlook Ekonomi 2018 yang diselenggarakan OJK melibatkan direksi BPR di seluruh Bali. (kup)

Denpasar (Bisnis Bali) – Secara khusus, kinerja industri BPR di Bali tergolong cukup baik. Angka peningkatan pertumbuhan kinerja BPR di Bali menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara, Hizbullah di sela-sela acara Evaluasi Kinerja BPR/S Provinsi Bali 2017 dan Outlook Ekonomi 2018 di Hotel Grand Inna Bali Beach, Rabu (6/12) mengatakan, bank perkreditan rakyat (BPR) sebagai salah satu kekuatan perbankan Indonesia

dan lembaga keuangan mikro yang memiliki peran strategis dalam memberikan pelayanan jasa keuangan kepada UMKM. Ini diharapkan mampu mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, dengan berperan optimal dalam pembiayaan pembangunan, sehingga upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai.

Ia menjelaskan, Kantor Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara mengawasi 179 BPR, yang masing-masing tersebar di Bali sebanyak 136 BPR (135 BPRK & 1 BPRS).  Di Provinsi NTB sebanyak 32 BPR (29 BPRK & 3 BPRS) dan di Provinsi NTT sebanyak 11 BPR (BPRK).

Dipaparkannya, secara umum, kinerja perbankan Bali hingga September 2017 masih tumbuh positif. Ini tercermin dari total aset bank mencapai Rp 122,2 triliun dengan pertumbuhan aset perbankan mencapai 10,26 persen (yoy), lebih tinggi dari periode sebelumnya (September 2016) yang tumbuh 7,58 persen (yoy).

Sementara itu, penghimpunan DPK tercatat sebesar Rp 96,8 triliun, tumbuh sebesar 10,89 persen (yoy) atau meningkat dari periode sebelumnya yang tumbuh 5,19 persen (yoy). Penyaluran kredit tercatat sebesar Rp 81,4 triliun atau tumbuh sebesar 7,39 persen (yoy), melambat dari periode sebelumnya yang tumbuh 9,93 persen (yoy).

Secara khusus, kinerja industri BPR di Bali tergolong cukup baik, meski menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Total aset BPR di Bali hingga September

2017 tercatat sebesar Rp 13,8 triliun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 8,87 persen (yoy), jauh melambat dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 18,87 persen (yoy)

Dari sisi funding, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 9,2 triliun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 16,31 persen lebih rendah dari periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 22,54 persen (yoy).

Lebih lanjut dikatakannya, porsi DPK masih didominasi oleh dana mahal yaitu deposito sebesar 73 persen dengan nominal sebesar Rp 6,7 triliun, sedangkan tabungan sebesar 27 persen dengan nominal sebesar Rp 2,4 triliun.

Sementara itu, sumber dana BPR di Bali yang disalurkan melalui kredit tercatat sebesar Rp 9,5 triliun dengan peningkatan sebesar 8,73 persen atau Rp 762 miliar, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,73 persen (yoy). LDR

mencapai 72,99 persen (September 2017), dibandingkan angka September 2016 yang tercatat sebesar 85,61persen.

Hizbullah melihat secara komposisi, penyaluran kredit BPR di Bali didominasi oleh kredit produktif sebesar 63,3 persen (Rp 6 triliun), yang terdiri dari kredit modal kerja

48,65 persen  (Rp 4,6 triliun) dan kredit investasi 14,6 persen (Rp 1,4 triliun). Selama setahun (kup)