Erupsi Gunung Agung  Produksi Pangan Bali pun Mulai ”Terancam”

31
Harga bahan pangan berpeluang bergejolak naik dampak erupsi Gunung Agung (man)

Erupsi Gunung Agung yang sudah terjadi sejak sepekan terakhir tak hanya mulai berdampak pada sektor pariwisata dengan menurunnya angka kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata. Kondisi erupsi yang juga dibarengi dengan hujan abu di sejumlah titik mulai berpengaruh pada menurunnya produksi pada sektor pertanian. Lalu apakah ini nantinya akan mengakibatkan kelangkaan bahan pangan mengingat erupsi tak bisa dipastikan kapan akan berakhir?

HUJAN abu vulkanik sebagai dampak erupsi Gunung Agung telah berdampak luas pada berbagai ektor usaha di Bali saat ini. Di sektor pariwisata dengan kondisi tersebut telah membuat angka kunjungan wisatawan di sejumlah daya tarik wisata (DTW) di Pulau Dewata mengalami penurunan tajam, bahkan terjadi pembatalan kunjungan.

Seperti yang terjadi di DTW Tanah Lot, setelah terjadinya erupsi Gunung Agung jumlah kunjungan ke DTW Tanah Lot mengalami penurunan hingga 50 persen per hari (data per 27/11 lalu). Biasanya rata-rata kunjungan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara (wisman) ke DTW Tanah Lot mencapai 7.000-8.000 orang per hari. Setelah terjadinya erupsi kunjungan wisatawan yang datang hanya mencapai 4.000 orang per hari. Hal sama juga terjadi di DTW Jatiluwih, erupsi Gunung Agung tidak saja membuat turunnya angka kunjungan, namun juga sudah membuat terjadi pembatalan kunjungan oleh sejumlah wisatawan. Ironisnya, pembatalan kunjungan tersebut jumlahnya sekitar 1.000 wisman yang kebanyakan merupakan tamu grup.

Kini tampaknya dampak erupsi tersebut mulai membayangi sektor pertanian di Bali, karena sejumlah sentra produksi bahan pangan di Pulau Dewata telah mengalami gagal panen yang disebabkan oleh hujan abu. Ancaman gagal panen ini berpeluang akan meluas seiring dengan erupsi yang tidak bisa ditentukan sampai kapan akan terjadi.

Menurut Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali, Prof. Nyoman Suparta, erupsi Gunung Agung ini tidak bisa dipastikan kapan akan berakhir. Bercermin dari kondisi itu bila erupsi ini terjadi berkepanjangan, tentu akan mempengaruhi ekonomi Bali nantinya. Sebab, orang atau pelaku usaha akan ragu untuk mengambil keputusan terhadap hal yang penting. Sementara di bidang pangan, menurutnya, akan menyulitkan petani karena abu vulkanik akan mengakibatkan risiko layu dan tanaman mati, sehingga produksi pertanian secara umum akan mengalami penurunan dari biasanya.

“Jangka pendek dampak erupsi ini akan menurunkan produksi pertanian karena risiko tanam mati menjadi tinggi. Dampak ikutannya, produksi bahan pangan di Bali akan menurun,” tuturnya.  (man)