Penanganan Wisatawan MICE harus Optimal

19
MICE - Delegasi Annual Meeting AFFA dan Rapim Pusat ALFI dihadapkan dengan kondisi penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai selanjutnya diberangkatkan menuju Surabaya. (kup)

Denpasar (Bisnis Bali) – Keberadaan wisatawan MICE yang libur incentive atau meeting di Bali sangat sensitif dengan isu bencana alam. Setelah Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik,  wisatawan MICE yang telah  berlibur atau meeting di Bali harus ditangani secara optimal.

Ketua INCCA Bali, IB. Surakusuma Minggu (1/12) mengatakan, erupsi Gunung Agung sangat berdampak terhadap aktivitas MICE di Bali. Ini terlihat adanya pembatalan atau penundaan kedatangan wisatawan MICE ke Bali akibat sebelumnya Gunung Agung mengalami erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik.

Ia menjelaskan, tidak tertutup kemungkinan wisatawan MICE yang sudah di Bali dihadapkan dengan penutupan bandara. Hal ini mesti ditangani dengan baik bersama asosiasi atau travel, DMC yang menghandel wisatawan MICE tersebut.

Dipaparkannya, jika terjadi penutupan bandara, seluruh komponen terkait penghandelan kegiatan MICE wajib memastikan  wisatawan MICE tidak panik. Selanjutnya, secara bersama-sama mengupayakan mengantarkan wisatawan MICE kembali ke negaranya melalui bandara terdekat lewat Lombok maupun Surabaya.

Lebih lanjut dikatakannya, wisatawan MICE sangat sensitif dengan isu bencana alam. Saat Gunung Agung mengalami erupsi dan terjadi penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai, wisatawan MICE ini tentu berharap bisa dievakuasi ke luar Bali sehingga bisa diantar kembali ke negaranya melalui bandara terdekat. Selanjutnya wisatawan MICE tentunya berhati-hati untuk berlibur ke Bali. Pertimbangan pertama Gunung Agung telah mengeluarkan abu vulkanik. Di sisi lain abu vulkanik juga menutup operasional Bandara Ngurah Rai.

Menurutnya, akibat adanya erupsi Gunung Agung tidak hanya wisatawan MICE dari Asia Pasifik dan wisatawan pasar MICE dari Eropa dan Amerika akan berpikir melakukan  kegiatan rapat atau konvensi di Bali. Salah satu pertimbangan ketika Gunung Agung meletus mereka kesulitan mendapatkan akses penerbangan dari Bali ke negaranya akibat penutupan Bandara Ngurah Rai seperti sebelumnya.

Kementerian Pariwisata dan Pemprov Bali harus tetap memperhatikan pemberitaan kondisi Gunung Agung melalui media sosial. Ini dengan harapan tidak lagi mumcul berita hoax yang menyudutkan pariwisata Bali akibat erupsi Gunung Agung.

Pria yang akrab disapa IB. Lolec ini berharap, pemerintah memperhatikan pemberitaan Gunung Agung. Hal ini agar tidak sampai kembali tersebar berita hoax yang merugikan pariwisata Bali.

Pemberitaan buruk kondisi Bali akan merusak citra pariwisata Bali dan pariwisata Indonesia. Kondisi ini bisa dimanfaatkan kompetitor pariwisata Indonesia untuk menjatuhkan pariwisata Indonesia

IB. Surakusuma menambahkan, pemerintah Indonesia menyampaikan ke dunia bahwa Bali masih sangat aman dikunjungi walaupun terjadi erupsi Gunung Agung. Ini bisa sampaikan komentar wisatawan di Bali saat terjadi erupsi Gunung Agung. Walaupun Bali menghadapi erupsi Gunung Agung, pemerintah bersama perusahaan MICE di Bali dan perusahaan MICE yang memiliki networking di berbagai kawasan dunia yang bisa berpromosi langsung ke pasar MICE.

Ketua DPW ALFI Bali, Gusti Nyoman Rai sebelumnya mengatakan, peserta kegiatan Annual Meeting AFFA dan Rapim Pusat ALFI dihadapkan dengan kondisi penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Ia menjelaskan, delegasi Annual Meeting AFFA sempat tertahan di Bali akibat penutupan bandara. Senin (27/11) diberangkatkan delegasi dari DPW ALFI Kaltim, Sulut dan Sumut sebanyak 12 orang. Ini termasuk 1 delegasi AFFA dari Myanmar. Mereka diberangkatkan menuju Surabaya.

Lebih lanjut dikatakannya, Selasa (28/11) 8 delegasi AFFA dari Malaysia dan Vietnam diberangkatkan ke Surabaya karena masih dilakukan penutupan bandara.

Dipaparkannya, para delegasi diberangkatkan memakai mobil carter menuju Surabaya. Dari bandara di Surabaya mereka selanjutnya menuju negaranya masing-masing.

Gusti Nyoman Rai melihat erupsi Gunung Agung dan penutupan Bandara Ngurah Rai memang akan berdampak pada gangguan khususnya pada transportasi udara. Hal ini akan berimplikasi pada terganggunya aktivitas pariwisata di Bali.

Gangguan yang terjadi pada sektor pariwisata harus ditangani bersama. (kup)