Potensial, Olah Limbah Sapi Jadi Pupuk Organik

37
BIOMI - Ir. I Gede Sutapa, MP (kanan) bersama tim dan kelompok tani ternak memamerkan produk pupuk cair BIOMI. (pur)

Denpasar (Bisnis Bali) – Pengolahan limbah ternak sapi menjadi pupuk organik padat (pupuk organik super petani Bali) dan pupuk cair (BIOMI) yang berkualitas dan bernilai ekonomis sangat potensial dikembangkan menjadi pabrik mini di kelompok tani. Untuk mewujudkan pabrik mini tersebut, Tim Prodi Peternakan Fak. Pertanian Universitas Warmadewa telah melakukan pendampingan terhadap Kelompok Tani Ternak Panca Urip Mertasari Desa Mengwitani dan Kelompok Tani Ternak Manik Tirta Rahayu Desa Baha yang lokasinya berada di wilayah Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

Ir. I Gede Sutapa, M.P., dosen Prodi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa selaku ketua tim memaparkan, dalam mewujudkan pabrik mini pupuk organik pihaknya memang hanya menggandeng dua kelompok petani ternak sebagai mitra. “Program ini yang merupakan IbM (iptek bagi masyarakat)  kami berupaya menerapkan paradigma baru dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang bersifat problem solving, comprehensif, bermakna, tuntas, dan berkelanjutan (sustainable) yang bertujuan untuk membentuk/mengembangkan kelompok masyarakat yang mandiri secara ekonomi, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” tuturnya.

Program ini dimulai dari 2017 karena kedua kelompok mitra tersebut memiliki potensi ternak sapi yang dilengkapi dengan sarana perkandangan, instalasi dan tempat pengolahan limbah cair dan padat serta alat penghancur pupuk organik (APPO) yang merupakan bantuan dari Pemprov Bali, namun potensi berupa limbah padat dan cair belum digarap secara optimal karena keterbatasan dari aspek pengetahuan dan keterampilan, permodalan, dan manajemen pemasaran. “Karenanya, saya bersama dua orang anggota yaitu Ir. Yan Tonga, M.P. dan Ir. Luh Suariani, M.Si. melakukan pendampingan IbM tersebut. Kami mendapatkan dukungan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Ditjen Penguatan Risbang Kemenristek Dikti,” tandasnya.

Untuk mewujudkan pabrik mini tersebut, kelompok mitra diberikan solusi untuk mengatasi berbagsi kendala yang dihadapi seperti memberikan peralatan dan bahan sebagai modal usaha, memberikan pelatihan teori dan praktik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah limbah padat dan cair menjadi pupuk organik berkualitas dan bernilai ekonimis, memfasilitasi/membuka jaringan pemasaran yang lebih luas dengan melakukan uji coba/demplot penggunaan produk pupuk yang sudah diproduksi oleh kelompok mitra pada berbagai tanaman dan mengadakan temu usaha dengan pelaku-pelaku di sektor pertanian. “Kami juga berupaya memberikan manajemen dalam pengelolaan usaha dan melakukan pendampinngan, monitoring dan evaluasi (monev) secara berkelanjutan selama 8 bulan. Selama pelaksanaan kegiatan sudah dilakukan monev secara internal oleh Kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Warmadewa dan monev eksternal dari reviewer yang ditunjuk oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Ditjen Penguatan Risbang Kemenristek Dikti secara langsung ke lokasi mitra serta monev secara periodik dilakukan oleh tim pelaksana,” tukasnya.

I Gusti Ngurah Agung Suarsa dan I Wayan Kertiana selaku ketua kelompok mitra 1 dan 2 menyatakan, program ibM sangat dirasakan manfaatnya. “Sekarang kami telah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi pupuk organik berkualitas dan bernilai ekonomis dari limbah ternak,” kata I Gusti Ngurah Agung Suarsa. (pur)