Gunung Agung meletus akan berdampak pada makin lesunya perekonomian di Bali. Lesunya ekonomi secara otomatis akan berdampak pada penurunan kinerja bisnis, termasuk usaha jasa keuangan di koperasi, yakni koperasi simpan pinjam (KSP). Jika salah kelola, kredit bermasalah akan meningkat. Lantas apa yang harus dilaksanakan agar mampu menjaga kesehatan usaha?

KOPERASI didirikan sekelompok orang yang memiliki kesamaan yakni meningkatkan kesejahteraan dengan jalan mengelola unit usaha hanya pada kelompok itu sendiri. Artinya, orang yang mendirikan koperasi langsung terikat aktif sehingga hasilnya juga untuk anggota.

Pemerhati koperasi, Putu Wirajaya, S.E., M.M. menegaskan, semua sektor usaha dalam kondisi perekonomian legi lesu akan mengalami masalah, terutama sektor bisnis jasa keuangan seperti bank umum dan lembaga keuangan mikro (BPR, koperasi, LPD) dan finance lainnya. Lesunya ekonomi memicu daya beli masyarakat menurun, sehingga pendapatan pelaku usaha/bisnis juga menurun. Khususnya sektor usaha jasa keuangan, lesunya ekonomi memicu permasalahan kredit atau nonperforming loan (NPL). ”Karena daya beli masyarakat menurun, secara otomatis terjadi penurunan kemampuan para debitur menunaikan kewajiban membayar cicilan bulanan kepada lembaganya. Dengan begitu, otomatis akan terjadi permasalahan kredit,” kata Wirajaya.

Pemerhati sekaligus praktisi, I Wayan Murja, S.E., M.M., melihat persoalan perekonomian umumnya tidak berdampak dominan pada KSP. Bukan berarti tidak ada hubungannya, namun KSP berbeda dengan lembaga jasa keuangan lainnya. KSP merupakan badan hukum koperasi yang dimiliki anggota koperasi. Secara umum memang, semua komponen sangat tergantung dari kondisi ekonomi. ”Kami pelaku koperasi justru saat terjadi masalah ekonomi masih bisa tetap eksis. Kami kumpulan dari anggota, sehingga maju dan mundurnya KSP tergantung dari pengurus dan anggota. Contohnya, KSP yang kami kelola (EDM) saat ekonomi lesu sekarang ini, NPL masih di bawah 1 persen. Kami didukung semua anggota, dan pengurus tetap menjalankan prinsip kehati-hatian, sehingga tidak ada ruang bagi nasabah untuk berbuat curang,” tegasnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Denpasar, Made Erwin Suryadarma Sena, S.E., M.Si., dan ‎Kepala Dinas Koperasi UMKM Nakertrans Kabupaten Bangli, Drs. I Dewa Gede Suparta, M.M., dihubungi Bisnis Bali sama-sama menerangkan dalam lesunya perekonomian secara umum, koperasi tetap eksis. Hal ini sudah terbukti berkali-kali saat carut-marutnya ekonomi akibat krisis dunia, terjadinya tragedi bom Bali dan lainnya, koperasi dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah tetap beraktivitas normal. Hal tersebut menandakan, koperasi dan UMKM sangat andal.

”Sederhana saja yang mesti dilaksanakan koperasi, khususnya KSP. Hanya pengurus mampu mengelola manajemen dengan baik. Kemudian anggota selaku pemilik KSP berperan aktif, yakin KSP akan tumbuh saat ekonomi carut-marut,” jelas Erwin Suryadarma.  (sta)