Pailitnya Hardys yang merupakan usaha besar dan ternama di Bali memberi gambaran real terhadap jatuh bangunnya dunia usaha. Beberapa faktor penyebab kepailitan Hardys juga memberi petunjuk terhadap pengaruh persaingan teknologi hingga daya beli masyrakat yang menurun dari tahun sebelumnya. Akankah kepailitan perusahaan yang telah terkenal hingga ke pelosok desa ini memberi pengaruh terhadap pertumbuhan usaha baru atau perusahaan retail lain?

SEPERTI diberitakan sebelumnya per tanggal 9 November 2017, PT Hardys Retailindo, PT Grup Hardys Holding serta pemilik perusahaan tersebut I Gede Agus Hardyawan dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Surabaya. Kinerja perusahaan yang menurun drastis hingga mengalami gagal bayar pada kreditur mendorong kepailitan Hardys. Menurunnya kinerja perusahaan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Ada pun faktor ekstern yang memberi pengaruh terhadap kepailitan Hardys yaitu, turunnya daya beli masyarakat yang disebabkan oleh perlambatan ekonomi  2 tahun terakhir serta dinyatakan pula industri retail turun di atas 20 persen. Faktor lainnya, adalah perubahan gaya hidup masyarakat dari suka belanja menjadi jalan-jalan atau nongkrong. Demikian pula persaingan mart-mart yang hingga ke desa-desa turut memberi pengaruh. Ditambah persaingan bisnis online dewasa ini, yang perpajakan bisnis online belum diatur secara pasti.

Sementera itu, beberapa faktor intern, diakui Gede Hardy, memberi pengaruh besar terhadap pailitnya Hardys, yaitu terlalu ekspansif mengembangkan outlet dan pengembangan konsep property mix used di tengah anjloknya pasar properti. Keterlambatan dalam mengantisipasi retail dengan konsep digital online hingga penggunaan uang bank yang kurang teliti.

Terkait hal tersebut, pengamat ekonomi, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M. mengatakan, usaha retail besar memang dihadapi oleh persaingan online dan menjamurnya toko modern yang hingga ke kampung-kampung. Demikian juga dia mengakui daya beli masyarakat yang menurun dari tahun 2016, karena peredaran uang yang saat ini berkurang khusunya di Bali. “Korupsi hilang ditambah adanya tax amnesty, sehingga sedikit yang berani membelanjakan uangnya. Dulu kenapa booming, karena banyak dari mereka yang berinvestasi di Bali dan membuat masyarakat di Bali memiliki uang lebih, sehingga daya beli pun tinggi,” ungkapnya.

Menurutnya, faktor ekstern yang mempengaruhi kepailitan Hardys tersebut juga bisa terjadi pada usaha retail besar lainnya. Demikian juga pada retail kecil yang meskipun tetap bisa berjalan, tetapi tidak berkembang. Namun, menurutnya, hal tersebut masih bisa diatasi sehingga tidak berujung pada pailit. “Menurut pandangan saya, hal yang paling mendorong Hardys mengalami pailit adalah terlalu ekspansi. Ekspansi pada waktu yang tidak tepat,” ungkapnya. (wid)