Disperindag Denpasar Latih Kelompok Jamur Pengolahan Pascapanen, Beri Nilai Tambah Penjualan

27
Kabid Industri Logam Mesin Elektronika Telematika dan Agro Dinas Perindag Kota Denpasar, Dra. Ni Made Sri Arini, M.Si didampingi Kasi Industri Agro, Putu Darcana sedang menyerahkan ‎bantuan peralatan seperti panci kepada salah seorang peserta pelatihan. ‎ (sta)

Denpasar (Bisnis Bali) – Pengolahan pascapanen memberikan nilai tambah penjualan. Jika produski budidaya langsung dijual juga dipastikan akan laku. Namun jika dapat diolah menjadi produk siap saji, maka pendapatannya akan berlipat.

Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar melaksanakan Pelatihan Pangan Industri Agro 2017 yang diikuti 20 peserta dari Kelompok Jamur Bee, Desa Peguyangan Kaja.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si., didampingi Kabid Industri Logam Mesin Elektronika Telematika dan Agro Dines Perindag Kota Denpasar, Dra. Ni Made Sri Arini, M.Si., di sela-sela pelatihan, pada Sabtu (25/11) lalu, menyebutkan pelatihan pengolahan pascapanen budi daya jamur tiram sangat penting. Karena di Denpasar, khususnya di Denpasar Utara banyak ada pembudidaya jamur tiram.

”Di seputaran Desa Peguyangan Kecamatan Denpasar Utara banyak ada petani yang membudidayakan jamur tiram,’’ jelasnya. Untuk itu, pihaknya memberikan sebanyak 20 orang menjadi peserta pelatihan pengolahan pangan.

Pihaknya memberikan praktek membuat aneka olahan, kemudian pihaknya juga berikan pelatihan kemasan, sehingga olahan yang dihasilkan dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. ‘’Karena kemasan membuat produk lebih menarik,” kata Wayan Gatra.

Sementara itu, Sri Arini menambahkan, pelatihan dilaksanakan selama lima  hari kepada 20 peserta. Di antaranya pelatihan pengolahan jamur menjadi pepes, kripik dan dari BPTP juga diberikan pengolahan berinovasi. Seperti diolah menjadi produk nuget dan abon jamur.

”Tujuan pelatihan ini memberikan pengetahuan keterampilan kepada peserta,’’ jelasnya. Selain itu juga, dapat memberikan nilai tambah penjualan jika jamur dijual langsung juga laku, namun harganya tidak tinggi. Berbeda jika olahan jamur yang dijual, maka nilainya bertambah berlipat.

‘’Misalkan untuk membuat keripik jamur dibutuhkan modal Rp 25 ribu, hasil produksi olahannya dapat dijual dengan harga di atas Rp 50 ribu,” jelasnya sambil menyebutkan setelah diberikan pelatihan agar dapat langsung berproduksi diberikan bantuan satu panci untuk satu peserta.  (sta)