UKM di Bali mulai Manfaatkan ‘’Packaging’’ untuk Tingkatkan Daya Saing

46
Putu Rupani, SE sebagai pembicara dalam Workshop dan Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Lelunakan dan Pusung Tagel  (man)

Tabanan (Bisnis Bali) – Guna meningkatkan daya saing produk lokal ditengah persaingan bebas, sejumlah pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Bali kini sudah mulai memanfaatkan teknologi dan penampilan packaging yang baik. Upaya tersebut sekaligus menjadi upaya dalam memperpanjang umur siap konsumsi (expayet) untuk produk pangan dipasaran.

Konsultan Retail dan Kemasan Bali, Putu Rupani, SE, di sela-sela Workshop dan Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Lelunakan dan Pusung Tagel yang digelar harian BisnisBali, bekerjasama dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) salon Agung, WHDI, serta Konsultan Retail dan Packaging, Jumat (24/11).

Workshop dan Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Lelunakan dan Pusung Tagel merupakan serangkaian kegiatan Festival Kedaton Tabanan yang dihadiri oleh Raja Puri Tabanan Ida Tjokorda Anglurah Tabanan, Ketua LPK Salong Agung Dr., Dra., AA., Ayu Ketut Agung.M.,M, para tim Asesor (Tim Penguji).

Lanjut Rupani selaku pemakalah dalam kegiatan tersebut, saat ini packaging memiliki arti yang cukup luas. Bila sebelumnya orang bicara packaging adalah pembungkus dari produknya, namun saat ini seiring dengan perkembangan teknologi yang canggih packaging tidak cuma melindungi, namun merupakan cara untuk bisa menjual dari produk didalamnya dengan mempertahankan mutu.

“Semisal kacang bila dibungkus dengan packaging yang biasa, maka pakai mungkin hanya biasa bertahan seminggu. Namun, bila menggunakan aluminium foil ditambah dengan packaging yang menarik maka umur pakai akan lebih panjang. Dan itu akan menjadi daya tarik bagi konsumen,” ujarnya.

Jelasnya, selama ini memang kesannya dengan memanfaatkan packaging lebih modern akan menimbulkan biaya yang mahal bagi pelaku usaha. Padahal akuinya, biaya mahal tersebut bisa disikapi, salah satunya bila packagingnya dikemas menarik, maka penambahan biaya tersebut bisa disikapi dengan mengurangi berat isian produk.

“Contohnya, pada produk snakc atau makanan ringan beredar dipasaran yang rata-rata menggunakan pembungkus yang besar, padahal isian di dalamnya tidak sebanyak dari besar kemasan yang ada. Ini dari segi hukum pasar, sah-sah saja dilakukan,” tendasnya.

Bercermin dari kondisi itu, packaging ini bisa menjadi upaya bagi kalangan pelaku usaha kecil untuk bisa bersaing di pasaran, bahkan dipasar internasional. Itu juga terbukti dari banyaknya produk usaha kecil lokal yang sudah mulai masuk di pasar oleh-oleh hingga sejumlah usaha riteil saat ini.(man)