Pemasaran Pariwisata harus Manfaatkan Digitalisasi

42

Denpasar (Bisnis Bali) –¬ Indonesia kaya dengan potensi pariwisata tetapi lemah di bidang pemasaran, karena itu pemasaran harus jadi fokus dalam pengembangan kepariwisataan ke depannya. Selain itu, di dunia saat ini berubah ke era digital maka pemasaran pariwisata Indonesia harus menyesuaikan ke arah digital. Demikian diungkapkan Deputi Bidang Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata Indonesia, Prof. Dr. I Gde Pitana pada Sales and Marketing Summit 2017 di Sanur, Jumat (24/11).

“Kami tambahkan pula selain ke arah digital, event-event di Indonesia sangat bagus misalnya Pesta Kesenian Bali namun sayangnya tidak dipasarkan dengan baik,” katanya.

Untuk itu, Prof. Pitana menerangkan berbagai strategi promosi kepariwisataan merupakan tantangan yang harus dihadapi. Sebab, pariwisata sebagai penyumbang PDB, devisa dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah. Ditambah lagi pemerintah sudah menetapkan bidang kepariwisataan sebagai sektor industri unggulan.

“Target kunjungan wisatawan mancanegara 8 juta untuk Bali dan 20 juta secara nasional pada 2019 mendatang,” ujarnya.

Di sinilah sales marketing harus fokus membangun pariwisata Indonesia dan diharapkan jadi motor penggerak pertumbuhan pariwisata. Ia memaparkan berdasarkan data capaian kunjungan wisatawan ke Indonesia Januari-September 2017 mencapai mencapai 25,05 persen atau 10.458.298.

Kontributor terbesar dari Tiongkok yaitu September 2017 mencapai 178.706 atau 44,93 persen, sedangkan perkembangan Januari-September 2017√ā¬†mencapai 1.607.615 atau 45,68 persen.

“Dengan adanya digitalisasi optimis terjadi peningkatan jumlah wisatawan dengan sasar potensial Tiongkok dan India,” jelasnya.

Terkait digitalisasi pariwisata, diakuinya, pemerintah sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk online mencapai lebih dari Rp 40 miliar ke trip advisor, Rp 30 miliar untuk pemasaran di Google, Rp 50 miliar ke Baidu dan beberapa lainnya.

“Suka tidak suka saat ini era digital maka pemasaran pariwisata harus mengarah ke digitalisasi,” katanya.

Pitana mengungkapkan, kenapa harus digitalisasi karena 60 persen lebih orang lakukan search dan booked bought and sold online. Selain itu, dunia telah berubah mau tidak mau harus mengikuti perubahan.

“Pemasaran digital yakin the more digital the more personal, the more digital the more proffesional dan the more digital the more global,” paparnya. (dik)