Pasar Australia Sikapi  Positif Pemberitaan Gunung Agung

55
ARMADA - Maskapai Jetstar dan Virgin Australia memastikan armadanya terbang dari dan menuju Bali walaupun Gunung Agung  sudah diberitakan meletus.

Denpasar (Bisnis Bali) – Beberapa jam pascaletusan freatik Gunung Agung, Selasa (21/11) pukul 17.05 wita, media-media Australia langsung memberitakan Gunung Agung meletus. Pemberitaan Gunung Agung disikapi positif oleh pasar Australia.

Ketua Bidang Informasi dan Media Bali Tourism Hospitality, Dewa Gede Ngurah Byomantara, Jumat (24/11) mengatakan, wisatawan dari pasar Australia ke Indonesia terbanyak kedua setelah Cina. Media di Australia, seperti halnya media internasional terkemuka, cenderung menunggu jalannya peristiwa, sembari menguji keabsahan data, sebelum merilis berita.

Ia menjelaskan, Australia tidak terbiasa dengan berita cepat seperti media di Indonesia yang akrab dengan potongan-potongan peristiwa, mengambil keterangan satu narasumber, dan me-running letusan Gunung Agung menjadi 20 judul dalam sehari. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan, media seperti Sydney Morning Herald baru merilis letusan Gunung Agung hampir tiga jam setelah peristiwa terjadi.

Dipaparkannya, sebagian dari cara mereka mendapatkan objek peristiwa adalah melalui kontributor, biro, maupun kiriman kantor berita. Namun, timing pemberitaan media Australia kali ini cukup menguntungkan sisi pariwisata Indonesia.

Dari 17 berita utama media terpopuler di Australia terkait penggunaan diksi erupsi, misalnya, publikasi Australia menerangkan dengan cukup jelas tentang jenis letusan freatik.

Lebih lanjut dikatakannya, secara umum, konten breaking news Gunung Agung yang ditulis media Australia meliputi kejadian letusan, waktu, tinggi semburan debu vulkanik, daerah yang menjadi zona bahaya, perkiraan dampak letusan terhadap kesehatan dan penerbangan, imbauan tidak panik, jumlah pengungsi, perkiraan kondisi berikutnya, dan kutipan-kutipan narasumber yang kompeten. Selintas hal tersebut di atas juga dilakukan pers dalam negeri.

Menurut Dewa Byomantara, bedanya media Australia memilih menunggu berjam-jam untuk memperoleh data yang komprehensif. Keuntungannya, pembaca publik Australia mendapatkan informasi lebih utuh, tidak terpotong-potong, sebab selalu ada kemungkinan pembaca menganggap kebenaran dari hanya satu informasi yang ia dapatkan.

Ia melihat seluruh media di negeri Kanguru bisa dibilang kompak menyampaikan, bahwa apa yang terjadi di Bali hanyalah berdampak pada satu titik kecil.

Media Australia menyampaikan tidak perlu takut memanjat Gunung Agung atau menerabas zona bahaya yang ditetapkan PVMBG. Framing semacam ini tampaknya, menurut penglihatan TCC, diperkuat dengan sikap PVMBG yang urung meningkatkan status Gunung Agung ke level Awas. Bagaimanapun, yang menjadi perhatian kantor berita di Australia adalah potensi gangguan penerbangan.

Media Australia juga menulis, Bandara Ngurah Rai aman, Lombok International Airport aman, AirNav berlakukan pilot report untuk memantau secara lebih akurat. Dan aktivitas Gunung Agung kembali melemah pada Selasa malam.

Akan tetapi, Sydney Morning Herald sebagai salah satu media paling terkemuka menurunkan artikel tentang kebijakan asuransi travel yang tidak menguntungkan wisatawan, dan bisa mempengaruhi mereka.

Bandara internasional di Bali sampai sekarang masih beroperasi dan tidak menemukan alasan untuk ditutup, sebab jarak fasilitas ini dari daerah bencana sekitar 75 km. Namun, tetap saja potensi gangguan penerbangan karena abu vulkanik itu tetap bisa terjadi sewaktu-waktu.

Ia menilai Maskapai Jetstar dan Virgin Australia memastikan armadanya terbang dari dan menuju Bali. Seluruhnya aman, tidak ada gangguan abu vulkanik. Namun Pemerintah telah merilis travel advisory untuk Gunung Agung, yang tidak saja mengimbau untuk tidak memasuki zona berbahaya, tapi juga memikirkan klaim ganti rugi perjalanan jika itu terjadi.

Dewa Gede Ngurah Byomantara menambahkan, pemerintah memastikan, keputusan maskapai tetap terbang menjadi tanggung jawab masing-masing. Masalahnya adalah, asuransi travel, tidak menerima klaim.

Dewa Gede Ngurah Byomantara menambahkan, kejadian kegunungapian maupun dampak dari abu vulkanik. Lagi pula Travel Insurance Direct baru-baru ini mengumumkan, pembelian mulai tanggal 21 November tidak akan mendapatkan ganti rugi akibat dampak abu vulkanik. Sedangkan 1Cover Travel Insurance memberkalukan kebijakan yang sama mulai pembelian tanggal 22 November. Hal ini berarti, perjalanan mereka tidak dilindungi dalam hal pembatalan atau perubahan jadwal. (kup)