Singaraja (Bisnis Bali) –  Bisnis kuliner nampaknya memiliki prospek ekonomi yang cukup cerah seiring perkembangan gaya hidup masyarakat masa kini. Selain kualitas, inovasi yang dilakukan harus berani tampil lebih kuat serta berciri khas sehingga berbeda dengan kuliner yang sudah populer di kalangan pecintanya. Demikian dikatakan Made Astika Dharma, pebisnis kuliner berbahan baku ketan dari Singaraja..

Tuturnya, bicara tentang ketan tidak sedikit kuliner berbahan dasar ketan, namun kuliner ketan yang satu ini tentu menawarkan yang unik dan tentunya tampil dengan rasa yang kekinian.

Ketan Susu Coeg, inilah salah satu kuliner yang kini buka cabang di Singaraja setelah pertama kalinya di buka di Denpasar. Kuliner ketan susu ini merupakan kuliner racikan khas dari Astika Dharma.

Menurutnya, kuliner ketan memiliki daya tarik tersendiri bagi pecinta kuliner di Singaraja. Umumnya kuliner ketan hanya diolah menjadi ketan kukus dipadukan dengan kelapa dan gula merah,

akan tetapi saat ini ketan kukus diolah menjadi jajanan yang unik dengan berbagai topping menarik.

“Kami coba olah agar lebih menarik dan unik, ini yang disebut makanan desa rasa kota,” ungkapnya.

Berbagai topping menarik pun disediakan mulai dari coklat, strobery, keju, kacang, duren, dan masih

banyak lagi yang lain. Sejak dibuka Mei lalu, usaha miliknya memang menjadi perhatian masyarakat Buleleng. Olahan ketan dengan berbagai topping tersebut merupakan kuliner pertama dan satu-satunya di Singaraja. “Antusias masyarakat untuk mencicipi luar biasa sekali bahkan di bulan pertama hingga ketiga kami  sampai kewalahan,” ungkapnya.

Made Astika tidak menampik jika kuliner unik hanya mampu menarik  minat masyarakat di awal saja, maka dari itu menjaga kualitas dan terus berinovasi harus tetap ia lakukan. Pihaknya selalu menggunakan bahan-bahan dengan kualitas baik dan selalu berusaha  menampilkan sesuatu yang baru. Salah satunya mencoba menawarkan menu ketan susu dengan topping  mangga. Ia mengatakan, Buleleng memiliki beberapa daerah yang menghasilkan buah lokal dengan

kualitas yang sangat baik diantaranya mangga dan duren sehingga ketika musimnya telah tiba ia

mencoba menggunakan buah lokal Buleleng sebagai topping. “Kalau sekarang sedang musimnya kami gunakan buah-buah lokal dari Buleleng,” ungkapnya.

Selain berinovasi, mahalnya bahan baku ketan juga menjadi hambatan dalam mengembangkan

usahanya. Dirinya harus mendatangkan ketan dari Denpasar agar mendapatkan harga yang lebih murah.

Meningkatnya bahan baku tentu akan berpengaruh terhadap harga penjualan. “Kami berusaha

menawarkan harga terbaik,” imbuhnya. Kata dia, dalam berbisnis tentu akan banyak menemui kendala yang membuat pelakunya menyerah dan putus asa akan tetapi dirinya lebih memilih bertahan dan fokus dalam menciptakan sesuatu yang unik dan menarik. (ira)