KUR Turun, Debitur Ritel Berpotensi Tinggalkan BPR

57
TRANSAKSI - Nasabah yang sedang bertransaksi dan memanfaatkan produk BPR. (kup)

Gianyar (Bisnis Bali) – Pemerintah 2018 berencana menggulirkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah. Penurunan suku bunga KUR dari 9 ke 7 persen, BPR berpotensi ditinggalkan debitur ritel.

Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba, M.M., Kamis (23/11) mengatakan, BPR selama ini hanya ikut menyalurkan KUR mikro yang dipatok 25 juta. Padahal, sasaran usaha mikro ini tidak lagi menjadi segmen pasar BPR. BPR lebih cocok masuk ke usaha ritel, sehingga maksimal kreditnya bisa sampai Rp 500 juta.

Ia menjelaskan, jika BPR bermain di segmen mikro ini maka dikhawatirkan debitur ritel bisa meninggalkan BPR. Debitur ritel ini akan lebih mengejar ke bank umum yang bisa memberikan nilai KUR lebih besar dengan bunga ringan.

Ketua Dewan Pimpinan Nasional iPro (Ikatan Bankir Profesional) BPR ini memaparkan, penurunan suku bunga KUR dari 9 persen menjadi 7 persen  akan makin membawa dampak bagi kinerja BPR. Pemerintah bisa mempertimbangkan kondisi BPR sebagai partner penyalur KUR. BPR tidak lagi hanya menyalurkan KUR mikro tetapi BPR diharapkan juga bisa menyalurkan KUR ritel.

Wakil Ketua DPD Perbarindo Bali, Wayan Sriasih mengatakan, penurunan bunga KUR bank umum dari 9 persen menjadi 7 persen akan makin memberatkan BPR. BPR dan lembaga keuangan mikro sulit bersaingan bank umum penyalur KUR.

Dipaparkannya, dampak bagi dengan penyaluran KUR terjadi perpindahan nasabah. Ini terlihat terjadi take over nasabah dari BPR ke KUR bank umum.  (kup)