Denpasar (Bisnis Bali)- Berbicara tentang sebuah foto atau gambar, banyak persepsi yang berbeda. Belakangan di era digital ini, sangat jarang orang yang mencetak foto dan lebih banyak orang memilih mengunggahnya ke media sosial. Padahal sebuah foto, esensinya adalah kenangan yang layak untuk diabadikan.

Menyiasati minimnya pencetakan foto belakangan ini, I Komang Pande Priantara  pemilik PAVO BALI Design & Photography tak hilang akal dan berupaya menarik minat konsumen dengan membuat kumpulan foto menjadi menarik dalam sebuah photobook. “Belakangan orang melihat foto hanya seksedar gambarnya saja, sehingga kebanyakan orang hanya sekedar ambil gambar lalu di upload ke media sosial. Padahal sebenarnya yang paling identik dari sebuah foto adalah kenangannya,” tuturnya.

Foto dan kenangan adalah 2 hal yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, karena dengan sebuah foto seseorang akan teringat dengan kejadian yang telah lalu. Ada banyak perspektif yang mengartikan sebuah foto adalah media bagi pemotretnya untuk dapat mengkomunikasikan melalui bahasa gambar/visual yang ingin disampaikan. “Tetapi bisa kita lihat, orang – orang di zaman sekarang mengartikan foto sebagai salah satu bagian yang sangat penting dalam aktivitasnya. Tidak ada aktivitas tanpa sebuah gambar, apalagi saat kita berlibur,” tukasnya. Biasanya anak – anak muda zaman sekarang jika beraktivitas, bertemu dengan teman, makan bersama atau berlibur pasti selalu mengabadikan momennya dan mengunggahnya ke media sosial.

Karenanya di era digital saat ini, foto dalam bentuk cetak jarang diminati oleh masyarakat, tidak seperti dahulu orang – orang menyimpan momennya dengan selembar kertas foto untuk dijadikan kenang-kenangan. “Melihat hal seperti itu saya mulai berpikir dan mulai memutar otak,  langkah bagaimana yang tepat untuk memunculkan peluang bisnis saat ini melihat semua di zaman sekarang semuanya serba digital. Tercetuslah sebuah ide kreatif yakni, mengkreasikan sebuah foto untuk diedit menjadi sebuah gambar yang menarik yang selanjutnya dicetak dalam bentuk photobook dan photo bingkai dengan desain yang unik dan menarik,” paparnya.

Ide tersebut mulai dikembangkannya secara perlahan sembari mengambil kesibukan menjadi pekerja kantoran, mahasiswa, fotografer, membuat kartu undangan dan desain grafis lainya.  “Setidaknya dengan tambahan pekerjaan ini, saya bisa menggunakan waktu luang saya untuk bekerja dan menghasilkan hal positif. Melihat tidak setiap hari orang akan memesan kartu undangan, karena kartu undangan diperlukan pada saat atau momen-momen tertentu saja seperti momen pernikahan,” tandasnya.

Biasanya orang – orang memesan photobook atau photoframe untuk dipakai sebagai hadiah ulang tahun, anniversary, atau sebagai hadiah untuk keluarga atau kerabat. Untuk harga berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu, tergantung ukuran dan jenis bingkai. Sedangkan untuk photobook berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, tergantung jumlah fotonya dan banyak halaman photobook. Untuk pemesanan bisa dilakukan melalui media online. (pur)