Denpasar (Bisnis Bali) – Prospek jasa merias pengantin tradisional Bali, terutama payas modifikasi pada 2018 mendatang, diprediksi masih terbuka lebar, kendati sudah banyak bermunculan jasa salon kecantikan yang menyediakan tata rias sejenis. ‘’Saat ini, kreasi-kreasi baru di bidang payas modifikasi Bali berkembang pesat, sehingga tidak mati gaya hingga ke depannya,’’ ujar Pujiastini, salah seorang pemilik salon kecantikan di Denpasar, Jumat (17/11).

Lanjutnya, padatnya aktivitas keagamaan yang memerlukan jasa rias ala tradisional Bali, seperti pernikahan, potong gigi, serta upacara keagamaan lainnya, membuat profesi ini masih sangat menjanjikan, sehingga jasa ini menjadi peluang bagi penyedia jasa terkait, serta dituntut mampu menyediakan layanan yang bermutu, serta mengacu pada tren kekinian.

Selain jasa rias, orderan foto prewedding juga diprediksi semakin laris kedepannya.

Kata Pujiastini, tren prewedding belakangan ini makin berkembang yakni unsur praktis dan ekonomis makin melekat. ‘’Ini menjadi tantangan bagi penyedia jasa untuk menyediakan produk jasa berkualitas,’’ jelasnya.

Untuk melayani paket prewedding, pihaknya mematok tarif sebesar Rp 5 juta per paket untuk 1 lokasi pemotretan, yang terdiri atas edit foto 4R, 1 foto 20R Jumbo, 1CD file edit dan CD original, gaun plus rias, serta free transport , khususnya untuk area Denpasar. ‘’Sementara, untuk 2 lokasi, ada penambahan biaya sekitar Rp 1.000.000. Paket prewedding Eropa biayanya mulai Rp 5,5 juta hingga Rp 8 juta,” katanya.

Pihaknya optimis, Bali sebagai kawasan destinasi pariwisata dunia, bisnisnya akan tetap kebanjiran order dari jasa rias pengantin atau gaun untuk prewedding ke depannya. ‘’Kami sebagai pelaku bisnis jasa bersaing ketat untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan dengan menyediakan model dan variasi pakaian adat yang beragam serta dengan harga sewa yang bersaing,’’ tandasnya.

Hal senada diungkapkan Ariani, pemilik jasa salon kecantikan lainnya. ‘’Peluang dan potensi tata rias Bali, kami prediksi akan makin berkembang ke depannya,’’ ujarnya.

Namun, lanjutnya, pakem-pakem tata rias Bali harus tetap lestari, terutama Payas Agung. Pasalnya, acara-acara ritual seperti pernikahan, potong gigi, dan lainnya umumnya menggunakan pakem tata rias Bali seperti payas agung dengan pemanfaatan bunga emas, gelungan, songket, prade, dan aksesori lainnya yang memiliki makna tersendiri.

‘’Ketika berkembang rias pengantin Bali modifikasi, bukan hal salah bagi kalangan penata rias, jika mereka juga mengembangkan,’’ ungkapnya. Justru merupakan hal positif untuk memperluas pasar seni tata rias Bali, baik di pasar local hingga mancanegara. (aya)