Kerajinan uang kepeng (pis bolong) yang menjadi kebutuhan masyarakat Hindu dalam penyelenggaraan upacara, membuat produksi uang kepeng harus terus dilakukan. Kebutuhan uang kepeng tidak setiap hari. Kondisi ini membuat inovasi harus digencarkan agar mampu meraih pasar lain. Seperti apa?

KEBUTUHAN uang kepeng yang hanya pada penyelenggaraan upacara oleh umat Hindu, membuat produksi uang kepeng tidak bisa sering dilakukan mengigat terbatasnya pemasaran. Demikian juga pasar uang kepeng yang masih pada pasar lokal dan sedikit merambah pasar nasional ini. Kerajinan uang kepeng belum mampu meraih pasar ekspor meskipun telah diinovasi dalam bentuk

kerajinan tangan yang bernilai seni tinggi. Keterbatasan pasar uang kepeng dikahwatirkan akan menurunkan produksi, yang berpengaruh pada menurunnya minat masyarakat bergelut dalam dunia kerajinan tersebut. Demikian juga akan berpengaruh pada kelangkaan produk khas Bali ini.

Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Klungkung, Ni Wayan Kariadi, saat ditemui Kamis (16/11) kemarin, membenarkan terbatasnya pasar uang kepeng hasil produksi masyarakat. Hal ini membuat tidak mampu berkembangnya pemasaran dan bahkan belum mampu merambah pasar ekspor.  Diakuinya,

di Kabupaten Klungkung terdapat tiga kelompok perajin uang kepeng. Satu di antaranya saat ini tidak beroperasi, yang dikarenakan generasi penerus dari perajin ini lebih memilih beralih profesi, karena melihat keterbatasan pemasaran.

Dijelaskannya, selain secara umum kebutuhan uang kepeng yang lebih untuk kegiatan upacara masyarakat, sehingga sasaran uang kepeng terbatas, sifat uang kepeng juga tidak habis pakai. “Untuk itu, inovasi pun harus dilakukan untuk membuat produk lain yang memiliki nilai pasar tinggi, sehingga pasar tetap bisa terjaga dan berkembang,” katanya.

Terkait hal tersebut, salah seorang perajin uang kepeng sekaligus owner dari UD Kamasan Bali, I Made Suksma Swacita mengatakan, untuk

mampu bertahan dalam pemasaran uang kepeng, memang membutuhkan inovasi yang tidak hanya menyasar satu pasar. “Sesuai dengan konsep awal berdirinya kelompok kami atas arahan Gubernur, yang mengingat uang

kepeng tidak dicetak lagi di Cina, kami memang memfokuskan produksi untuk memenuhi kebutuhan umat. Namun, untuk mampu

mengembangkan pasar, kami juga harus berinovasi menjadikan uang kepeng produk kerajinan yang menarik,” ungkapnya.(wid)