Para bankir muda kini makin banyak bermunculan dalam memimpin bisnis bank. Munculnya bankir muda patut diapresiasi positif namun tidak dipungkiri mereka masih kurang pengalaman sehingga dalam mengelola bank masih kalah jauh dengan bankir senior. Apa pengaruhnya?

DAMPAK dari penurunan harga komoditas tidak dipungkiri memicu terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yang berawal dari 2012 hingga 2015 dan pada pada 2016 mampu kembali recovery.

Pada 2017 yaitu triwulan satu dan dua, ternyata kembali ekonomi nasional mengalami pertumbuhan yang stagnan. Penyebab itu terjadi diduga dampak dari lemahnya daya beli masyarakat dan tidak berfungsinya  intermediasi bank secara signifikan, kondusif, efisien dan efektif. Intermediasi perbankan tidak berjalan signifikan diprediksi banyak ditentukan pula oleh para bankir itu sendiri.

Seperti dikatakan pemerhati perbankan IB Kade Perdana, dewasa ini pengelolaan bank didominasi oleh para bankir muda. Bankir muda baik karena sebagai generasi penerus yang kemampuan dan memiliki keberanian, tetapi dari sisi pengalaman maupun visi serta semangatnya sebagai entrepreneurship tampak berbeda kadarnya dengan para bankir senior.

“Satu contoh bankir senior dalam mengeksekusi fungsi intermediasi maupun dalam mengelola bisnis perbankan senantiasa berpegang teguh pada fungsinya sebagai agen pembangunan,” katanya.

Mantan Dirut Bank Sinar ini menerangkan, bankir senior selalu sejalan dengan perbankan nasional sebagai bagian dari sistem keuangan dan alat kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yaitu dengan tujuan untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan menggerakkan perekonomian nasional.

Kade Perdana lebih lanjut mengungkapkan, terkait dengan fungsinya BI di bidang makro prudensial, perbankan mempunyai fungsi utamanya yang teramat vital melakukan fungsi intermediasi yang selama periode tersebut hingga saat ini cenderung berjalan tidak normal.

“Sepertinya perbankan sedang terkena virus demam panas atau kurang sehat,” ujarnya.

Tercermin dengan kontribusi penyaluran kreditnya yang tergolong minim hingga September 2017 baru mencapai kisaran 7,8 persen. Itu menunjukkan fungsi intermediasi berjalan tidak signifikan dan jauh dari efektif, sehingga kebijakan moneter BI melalui politik diskonto untuk relaksasi kebijakan uang ketat cenderung menjadi gagal.

“Itu terjadi karena tidak direspons oleh perbankan dengan menurunkan bunga pinjaman secepatnya sebagai alat kebijakan moneter,” jelasnya.

Ini tentu membuat kebijakan moneter BI cenderung menjadi mubazir dan tidak efektif. Wakil Ketua Kadin Bali Bidang Finansial dan Moneter ini menduga para bankir nasional cenderung bermain aman terendus dengan melakukan kebijakan aksi stop booking kredit alias tidak melayani permintaan kredit baru.

“Kemungkinan pula sedang intensif melakukan konsolidasi fokus menyelesaikan kredit bermasalah,” terangnya.

Bisa pula mereka mungkin trauma dan ketakutan akan berpotensi menambah jumlah kredit bermasalah bila melakukan ekspansi kredit, padahal justru sebaliknya yang akan terjadi. Kata Kade Perdana, dengan adanya ekspansi penyaluran kredit baru secara otomatis akan bisa menurunkan volume kredit bermasalah dan menambah return, sepanjang dilakukan dengan mengedepankan sikap profesionalisme sejati dan prinsip kehati-hatian dalam upaya berperan aktif dalam mendukung pembangunan ekonomi agar bertumbuh secara signifikan dan kondusif.

“Namun dalam penyelesaian kredit bermasalah banyak masyarakat yang mengeluhkan bahwa perbankan cenderung hanya main lelang saja,” tegasnya. (dik)