Aksesori Perak Bakar Diprediksi tetap Tren di 2018

41
Aksesori perak bakar kelihatan lebih mewah, karena tekstur, motif maupun ukirannya yang memang indah terlihat dengan jelas. (aya)

Gianyar (Bisnis Bali) –  Para pebisnis aksesor, memprediksi perhiasan yang berwarna perak, terutama perak bakar akan kembali populer dan diprediksi tetap tren di 2018 mendatang. Pasalnya, perhiasan bernuansa metal ini, cocok dipadukan untuk busana adat dan mempercantik penampilan ke Pura.

Hal itu diungkapkan Made Suteja, salah seorang perajin perak di Celuk, Sukawati, Gianyar, Rabu (15/11).

‘’Beragam perak bakar yakni, mulai cincin, kalung, gelang hingga bros dengan desain yang up to date kami sediakan,’’ ujarnya.

Diakuinya, perhiasan cincin perak bakar mudah untuk digunakan sepanjang hari, baik siang maupun malam hari.

‘’Aksesori yang dibeli tidak perlu mahal, tetapi yang terpenting bermodel unik. Kaum wanita dan remaja putri akan percaya diri mengenakan aksesori berbahan perak ini,’’ jelasnya. Terlebih lagi, perak Bali, khususnya perak bakar ini kelihatan lebih mewah, karena tekstur, motif maupun ukirannya yang memang indah terlihat dengan jelas. Pihaknya sengaja menambahkan warna hitam sebagai latar belakang pada aksesori perak, sehingga tekstur, motif dan ukiran Balinya terlihat dengan jelas. ‘’Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah perak bakar,’’ katanya.

Hal senada diungkapkan Ketut Mahardika, salah seorang perajin perak lainnya. ‘’Pemasaran perak bakar motif tradisional Bali hingga saat ini cukup positif khususnya di pasar lokal,’’ ujarnya.

Hal tersebut tak lepas dari minat dan daya beli pasar akan berbagai jenis perhiasan perak. Seperti cincin, gelang, anting-anting dan lainnya yang cukup kompetitif, dibandingkan perhiasan berbahan emas.

Katanya, perhiasan perak hingga kini tetap dipilih sebagian konsumen, selain perhiasan emas. Kendati nilai investasinya tak seprospek emas, tapi untuk jangka panjang berbagai perhiasan emas cukup awet digunakan. ‘’Perawatan yang tak sulit, juga desain dan motif yang makin bersaing dengan perhiasan emas menjadikan aksesori perak tetap dipilih,’’ ungkapnya.

Terlebih lagi, motif-motif tradisional Bali seperti, barong, rangda dan lainnya bisa makin diangkat kepermukaan. Termasuk motif dengan nilai-nilai tradisi lainnya yang diyakini tak hanya menggugah minat beli pasar lokal, tapi juga wisatawan domestik dan mancanegara.

Karena itu, kemahiran dan potensi karya desain dan motif khas Bali harus betul-betul mampu diproteksi oleh setiap komponen. ‘’Tak hanya ahli desain, tapi juga  pemerintah daerah lewat HaKI, dan upaya-upaya terkait lainnya yang mengerucut pada upaya meningkatkan kepercayaan diri para perajin seperti kami ini,’’ jelasnya.(aya)