Digelontor Stimulus Fiskal, Daya Beli tetap Menurun

50

Denpasar (Bisnis Bali) – Daya beli konsumen secara nasional cenderung mengalami penurunan, bahkan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan periode 2011-2013 lalu. Kondisi tersebut tak searah dengan kebijakan pemerintah melalui kebijakan ekonomi moneternya telah menggelontor berbagai program stimulus fisikal belakangan ini.

Pengamat perbankan, IB Kade Perdana di Denpasar, Minggu (12/11) kemarin mengungkapkan, triwulan III/2017 progres perekonomian Indonesia menunjukkan pertumbuhan membaik menjadi 5,06 persen dari dua triwulan sebelumnya yang stagnan masing-masing 5,01persen. Imbuhnya, capaian tersebut bahkan dibarengi dengan inflasi yang sangat rendah.

“Namun, tampaknya terjadi anomali dalam perekonomian nasional. Anomali tersebut dicerminkan dengan daya beli konsumen yang melemah,” tuturnya.

Beber Kade, itu tercermin dari capaian konsumsi rumah tangga yang menurun pada triwulan III/2017 dengan mencapai 4,93 persen dibandingkan triwulan sebelumnya mencapai 4,95 persen. Ironisnya, bila dibandingkan periode 2011-2013 yang berada di kisaran 5,3-5,5 persen, capaian pada triwulan III/2017 ini konsumsi rumah tangga menjadi jauh lebih rendah.

Sambungnya, penurunan daya beli ini tampak tidak searah dengan sejumlah kebijakan pemerintah dalam mendorong peningkatan ekonomi termasuk daya beli konsumen. Paparnya, pemerintah telah nenggelontorkan bantuan desa kisaran Rp 60 triliun dan Bank Indonesia (BI) telah melakukan relaksasi kebijakan moneternya dari kebijakan yang uang ketat/tight money policy (TMP) melalui politik diskonto dengan menurunkan bunga acuan BI 7 DRR yang masih bertengger di kisaran 4,25 persen.

Selain itu, lanjutnya, BI juga telah menurunkan giro wajib minimum (GWM) dan loan to value (LTV), baik untuk KPR maupun untuk pembelian kendaraan, namun dirasa masih ketinggian sehingga tidak direspons positif oleh masyarakat banyak. Akibatnya, membuat kinerja perbankan  kontribusi penyaluran kreditnya masih sangat minim di kisaran 7,8 persen sampai September 2017. Begitu juga sektor properti nampaknya masih tiarap.

“Sektor properti bisa mulai bergairah kembali karena sifatnya padat karya dan perbankan bisa merealisasikan penyaluran kredit minimal 20 persen,” ujarnya. (man)