Kembangkan Ekonomi Bali, BI Ajak Lirik Pasar Rusia

38

Denpasar (Bisnis Bali) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali mengajak pelaku usaha di Pulau Dewata untuk bisa melakukan diversifikai pasar, tidak hanya menyasar Amerika Serikat, Jepang maupun Australia. Dalam upaya pengembangan ekonomi, pasar Rusia potensial untuk dilirik pelaku usaha Bali.

Kepala Kantor Perwakilan BI Bali, Causa Iman Karana di Renon, Senin (16/10) lalu mengatakan, salah satu fungsi BI selain dari sistem pembayaran, juga dalam upaya melakukan pengembangan ekonomi daerah. Karena fungsi tersebut, BI mendorong perkembangan ekonomi Bali supaya lebih berkembang lagi dengan menyasar pasar potensial lainnya.

“Pasar Rusia salah satunya memiliki potensi cukup besar yang harus ditangkap, hanya selama ini informasi saja yang kurang jelas diperoleh oleh pelaku usaha Bali. Inilah yang kami jembatani bagi pelaku usaha di Bali,” katanya.

Dengan melirik pasar Rusia, Pak Cik biasa ia disapa menerangkan, akan terbuka peluang-peluang baru, ekonomi Bali berkembang, mendorong ekspor Bali dan terpenting mengundang investasi Rusia masuk ke Bali. Itu bisa terlihat dari nilai ekspor Bali ke Rusia tercatat pada periode Januari-Agustus 2017, nilai  mencapai 726.417 dolar AS atau naik 5,1 persen dibanding periode Januari-Agustus 2016 sebesar 1,7 juta dolar AS.

Begitu pula share ekspor Bali ke Rusia terhadap total ekspor Bali pada 2016 yang sempat turun menjadi 0,19 persen namun pada 2017 (hingga akhir Agustus) naik menjadi 0,21 persen.

“Sebenarnya terdapat 5 komoditas ekspor utama Bali terhadap Rusia,” jelasnya.

Lima komoditas tersebut yaitu dari hasil produksi kayu mencapai 657 ribu dolar AS pada 2015 (39 persen), lalu turun menjadi 445 ribu dolar AS (share naik menjadi 48 persen), kemudian hingga Agustus2017 tercatat senilai 376 juta dolar AS (share naik menjadi 51,8 persen).

Selanjutnya dari ikan dan olahannya, komoditas dengan nilai terbesar kedua pada 2015 mencapai 539 juta dolar AS atau 32 persen. Kemudian ada pakaian dan kain yang mencapai 7,4 juta dolar AS pada 2016 yang kembali naik menjadi 45,3 juta dolar AS pada 2017 (share 6,2 persen).

“Furniture juga termasuk diekspor naik signifikan pada 2017 menjadi 80,8 juta dolar AS atau share11,1 persen. Terakhir ada besi siku (metal nesting) tercatat 33 juta dolar ASpada 2015, kendati turun menjadi 3,7 juta dolar AS atau share 0,5 persen saja pada 2017,” ungkapnya.

Hal sama ditekankan Duta Besar Republik Indonesia untuk Rusia M. Wahid Supriyadi. Menurutnya, Rusia merupakan pasar potensial bagi pelaku usaha di Bali. Pada saat pameran yang berlangsung di Rusia Agustus 2017 lalu misalnya, pengunjung yang datang mencapai 91.600 orang.

“Dari festival tersebut, perdagangan naik 33,2 persen. Dari sisi pariwisata juga menggembirakan Januari-Juli 2017 wisatawan yang datang 57 persen Rusia dan 90 persen ke Bali,” ujarnya.(dik)