Iuran Murah Tukang Suwun Pasar Tradisional Terlindungi BPJS Ketenagakerjaan

45
tukang suwun di pasar tardiosnal sedang mendaftar kepesertakan BPJS Ketenagakerjaan (dik)

Denpasar (Bisnis Bali) – Kepesertaan pekerja informal di Denpasar dalam jaminan sosial ketenagakerjaan dinilai masih kurang maksimal. Inilah membuat Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan berupaya meningkatkan sasaran ke kalangan pekerja informal atau bukan penerima upah (BPU), salah satunya tenaga kerja di pasar tradisional.

“Dengan iuran Rp 36.800 per bulan, pekerja BPU akan terlindungi jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JKM) dan jaminan hari tua (JHT),” jelas Kepala Bidang Pemasaran BPU Kacab BPJS Ketengakerjaan Bali Denpasar, I Ketut Arja Leksana di Pasar Kumbasari, Senin (16/10) kemarin.

Ia mengatakan, pekerja informal di pasar tradisional sangat rentan mengalami kecelakaan kerja. Karenanya, dengan mengikuti program jaminan sosial yang iuran tergolong murah, pekerja informal akan banyak mendapatkan keuntungan. Potensi tenaga kerja informal di pasar tradisional muai penjaga toko, tukang suwun, pedagang, tukang parkir, guide pasar tradsional yang ada di PS Kumbasari dan lainnya.

“Kami ingin memberikan edukasi yang terus menerus dan menumbuhkan kepedulian tentang betapa pentingnya perlindungan para pekerja maupun pedagang pasar jika terjadi seperti kecelakaan kerja dan kematian,” katanya.

Menurutnya, dengan Rp 36.800 tenaga kerja informal bisa mendapatkan JKK Rp10.000, JKM Rp 6.800, dan JHT berupa tabungan Rp 20.000 per bulan.

“Dengan iuran Rp 16.800 per bulan sebenarnya bisa tenaga kerja sudah mendapatkan perlindungan JKK dan JKM. Tetapi kita selalu edukasi jangan sampai hanya dua karena begitu dia tidak bisa bekerja tentu tidak ada  uang penghasilan sehingga kita tambah lagi dengan JHT, maka tenaga kerja masih memiliki tabungan atau ada jaminan setelah tidak bisa bekerja,” ujarnya.

Ia menilai, potensi yang ada di Pasar Kumbasari kurang lebih 800 -1.000 tenaga kerja informal. Menariknya, respons tenaga kerja informal di pasar seni di Kota Denpasar ini sangat bagus. Ini membuktikan banyak masyarakat yang belum tahu jika BPJS Ketenagakerjaan bisa mereka akses. Respons itu dibuktikan dari penambahan peserta dari sosialisasi di pasar tradisional yang 100 orang saat dilakukan sosialisasi, dan 30 persen sudah ikut JHT.

“Kami optimis potensi 800-1.000 tenaga kerja bisa tercapai karena kami juga melengkapi diri dengan sitem jemput bola bagi mereka yang belum tahu membayar ke mana,” jelasnya.

Dalam upaya meningkatkan peserta BPU, pihaknya ke depannya akan memfokuskan ke sektor informal seperti selain menyasar kalangan pedagang di Pasar Kumbasari juga menyasar mal, tiga desa sadar ketenagakerjaan seperti Sesetan, Ubung Kaja dan  Dangin Puri Kangin.

“Peserta di sektor informal tidak bisa sosialisasi hanya lewat surat, tetapi harus langsung turun ke lapangan, tatap muka untuk menjelaskan informsi dan tahu manfaatnya,” jelasnya.

Ia pun mengungkapkan target kepesertaa hingga akhir tahun 22.964 tenaga kerja dan sampai September tercapai 13.024 atau baru 57 persen.  Diakui, tidak aktif dari peserta informal kemungkinan karena minimnya kesadaran mereka. “Pekerja penerima upah (PU) atau formal otomatis dipotong dari gaji setiap bulannya, sementara informal yang banyak dari kalangan menengah  ke bawah kemungkinan mereka lupa atau tidak memiliki kartu ATM,” terangnya. (dik)