K-UMKM di Bali Banyak belum Tersentuh LPDB

44

Denpasar (Bisnis Bali) – Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) yang dikelola Kementerian Koperasi dan UKM RI memberikan kucuran pembiayaan kepada lembaga koperasi dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (K-UMKM) di seluruh Indonesia. Dana yang sudah dikelola LPDB sampai saat ini mencapai Rp 8 triliun lebih.

Pada 2014, dana yang dikucurkan ditarget lebih dari Rp 4 triliun. Namun, sasaran LPDB bukan hanya pendampingan pembiayaan pada K-UMKM saja, melainkan sudah memberikan pinjaman di luar K-UMKM. Hal ini sudah melenceng dari aturan awal bahwa LPDB yang merupakan badan layanan umum di bawah Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk memberikan dorongan modal kepada K-UMKM di seluruh Indonesia. Sementara dari sekitar 150 ribu yang produktif di seluruh Indonesia masih banyak yang belum tersentuh LPDB. Contohnya di Bali, jumlah koperasi 4.982 unit dan jumlah UMKM sekitar 300.000 lebih hanya baru beberapa saja yang dapat pendampingan modal dari LPDB.

‎Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Patra, S H., M.H., Senin (18/9) di Denpasar mengatakan, saat menghadiri undangan dari LPDB dalam rapat yang dilaksanakan di Batam, langsung memberikan masukan kepada LPDB. Bahkan, tujuan dan misi pokok LPDB dikembalikan ke marwah yang sebenarnya. Terbukti selama ini LPDB belum maksimal mendorong K-UMKM. Kemudian kinerja LPDB belakangan ini sudah melayani di luar K-UMKM.

”Saya bicara saat pertemuan yang dilaksanakan LPDB di Batam baru-baru ini. Kami tekankan agar peran LPDB memberikan pembiayaan fokus pada koperasi dan UMKM, karena masih dominan koperasi dan UMKM yang belum tersentuh LPDB dan sudah menyalurkan dananya ke luar. Bayangkan, dana sebesar Rp 4 triliun kalau dibagikan kepada 150 ribu koperasi se-Indonesia, maka rata-rata hanya dapat Rp 26 juta saja. Dana tersebut sangat kecil, dibandingkan modal yang dibutuhkan koperasi,” kata Dewa Patra.

Dewa Patra juga memberikan masukan dampak program Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap lembaga koperasi, di mana masyarakat yang notabene anggota koperasi akan mencari KUR dan sebagian pinjaman KUR tersebut dipakai untuk mengembalikan pinjaman pada koperasinya sendiri, karena selisih bunga yang sangat tinggi. Koperasi jadi memiliki dana banyak akibat pengembalian dari anggotanya. Dana yang terkumpul tidak dapat disalurkan, sehingga koperasi mengalami kerugian. (sta)