Tabanan (Bisnis Bali) – Intensitas curah hujan yang turun belakangan ini tak membuat sejumlah petani padi di Tabanan bisa bernafas lega dengan terjaminnya produksi pada musim tanam tahun ini. Sebaliknya, curah hujan yang tak sesuai musim ini disambut petani dengan penuh rasa waswas terhadap pemenuhan kebutuhan tanam.

“Saat ini memang kebutuhan air untuk irigasi tanaman mencukup dengan adanya hujan yang turun belakangan ini. Namun, kondisi tersebut tidak bisa diprediksi sampai kapan akan terjadi, mengingat harusnya saat ini merupakan musim kemarau, tapi malah hujan,” tutur salah seorang petani di Kabupaten Tabanan yang sekaligus juga Ketua Asosiasi Penyuluh Swadaya Seluruh Indonesia (APSSI) Kabupaten Tabanan, Gusti Subagia, Rabu (9/8).

Ia menerangkan, rasa waswas tetap menghantui petani pada musim tanam, khususnya pada kondisi hujan yang tidak pada musimnya seperti saat ini. Sebab, tidak ada yang bisa memprediksi atau menjamin sampai kapan hujan yang dibutuhkan untuk irigasi ini akan berlangsung, sedangkan guna menjamin tanaman padi tumbuh baik memerlukan pengairan yang cukup hingga 42 hari atau paling lama sekitar dua bulan dari waktu tanam.

“Kami berharap mudah-mudahan hujan ini turun hingga dua bulan ke depan. Setelah itu, jika kembali dibayangi dengan musim kemarau, kami tidak mempermasalahkan karena justru tidak memerlukan air lagi untuk proses jelang panen,” ujarnya.  (man)