Margin Premium Tipis Pengusaha SPBU Bali cenderung Lirik BBK

118

Denpasar (Bisnis Bali) –
Belakangan ini, ketersediaan premium di sejumlah SPBU berkurang. Terlebih, badan usaha atau SPBU kini tidak wajib menyediakan premium.

Namun mengingat masih ada masyarakat yang membutuhkan produk tersebut, sampai saat ini Pertamina masih menyediakan hampir di semua SPBU. Hal itu diungkapkan Marketing Branch Manager‎ Pertamina Bali, Ketut Permadi Arya Kumara.

“Kendati permintaan bahan bakar khusus (BBK) seperti pertalite dan pertamax kian tinggi di Bali, sekitar 90 persen SPBU masih menyediakan premium, yakni dari total 188 SPBU yang ada di wilayah Bali, sekitar 180 SPBU masih menyediakan premium,” ujarnya.
Lanjutnya, sebagiannya lagi telah mengurangi beberapa nozzle premium ke BBK.
“Masyarakat kini mulai memilih bahan bakar yang memiliki research octane number (RON) lebih tinggi di atas premium. Penjualan premium tetap ada dan masih berlangsung, terutama untuk SPBU yang berada di jalur armada angkutan umum,” ungkapnya.

Berbicara soal BBK, kata Kumara, seperti pertalite, sangat tergantung dari SPBU-nya.
“Kalau dilihat dari persentase, penggantian nozzle premium ke BBK itu sudah sekitar 50 persen, artinya nozzle premium 50 persen, dan 50 persen sisanya untuk BBK seperti pertalite dan berbagai jenis pertamax,” jelasnya.

Adanya perbedaan harga antara BBM jenis premium  bila dibandingkan dengan BBK jenis pertalite yang hanya terpaut sekitar Rp350 per liter  membuat warga mengalihkan pilihannya karena dianggap memiliki nilai lebih saat digunakan untuk kendaraan mereka. “Sementara bagi pengusaha SPBU, margin BBK lebih besar dibandingkan margin premium, yakni BBK di atas Rp 300 per liter, sedangkan premium berkisar Rp 250-Rp 270 per liter, sehingga pengusaha SPBU lebih semangat menjual BBK,” katanya.

Imbuh Kumara, di sejumlah SPBU, antrean sepeda motor yang mengisi pertalite cukup banyak ketimbang premium. Meski lebih mahal Rp350 per liter, pertalite ini lebih irit bila dibandingkan dengan premium. “Selain itu tarikan kendaraan jadi kencang, mungkin ini alasan masyarakat beralih dari premium,” tuturnya. (aya)