Denpasar (Bisnis Bali) – Kekurangan jaminan menjadi salah satu permasalahan bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam mengakses kredit ke bank. Bagi kalangan perbankan, memiliki agunan tidak mutlak bisa mempermudah untuk mendapatkan akses kredit modal kerja.

Direktur Operasional Bank BPD Bali I Gusti Ngurah Agustana Mendala di Sanur, Senin (7/8) kemarin mengatakan, agunan merupakan second way out yang digunakan bila suatu usaha tidak jalan maka agunan ini yang dipakai bayar atau dilelang. Faktor utama yang dinilai bank bagi debitur adalah sumber pengembalian dan tujuan penggunaan dana.

“Untuk menilai layak tidaknya pemberian kredit, bank menggunakan 5C yaitu character, capacity, capital, condition of economy dan collateral,” katanya.

Ia mengakui, banyak cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi risiko kredit. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melakukan analisis 5C terhadap nasabah. Dalam berbagai referensi disebutkan faktor C yang paling dominan dalam analisis tersebut adalah character, yang tentunya sangat penting untuk didalami oleh petugas bank sebelum memberikan kredit. Character berkaitan dengan watak calon debitur untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, seperti memegang teguh janji dan bersedia melunasi utangnya tepat waktu.

“Nasabah yang memiliki karakter yang baik (dengan asumsi faktor C yang lain cateris paribus) akan berdampak positif terhadap kualitas NPL perbankan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tujuan pemilihan character dalam memberikan kredit terpenting adalah meminimalisasi terjadinya risiko kredit yang kemungkinan akan muncul pada saat kredit sedang berjalan. Dicontohkan apabila seorang debitur dengan usaha yang lancar dan memiliki kemampuan untuk membayar, namun tidak memiliki itikad yang baik maka akan menimbulkan permasalahan bagi pihak bank di kemudian hari seperti timbulnya kredit bermasalah. Manfaat dari penilaian character untuk mengetahui sejauh mana tingkat kejujuran dan integritas serta tekad baik yaitu kemauan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya calon debitur.

“Karena itu pemilihan character yang baik dan tepat merupakan salah satu indikasi untuk menentukan baik tidaknya kredit tersebut kelak,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan realisasi kredit produktif hingga Juni 2017 mencapai Rp 6,6 triliun atau lebih tinggi dari posisi Desember 2016 mencapai Rp 6,3 triliun. Begitu pula realisasi untuk kredit konsumtif mengalami pertumbuhan dari Desember 2016 mencapai Rp 9,2 triliun kini menjadi Rp 9,5 triliun Juni 2017.

“Sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) pada 2017 pertumbuhan kredit produktif targetkan 17,1 triliun atau tumbuh 10 persen dengan target share kredit produktif 42 persen,” paparnya.

Ia pun menjelaskan, terkait jaminan sertifikat hak milik (SHM) di Bank BPD Bali dapat diinginkan untuk semua jenis kredit, sedangkan untuk KPR wajib agunan nya SHM atau SHGB. Untuk KUR, kredit pengadaan barang dan jasa, agunannya proyek yang dibiayai atau SPk-nya dan kredit konsumtif PNS agunannya dari gaji. (dik)