PRODUK hortikultura yang sedang banyak dikembangkan petani di Bali saat ini adalah bawang dan cabai. Hal ini, menurut Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunarta, karena kedua komoditas tersebut nilai jualnya sangat tinggi sehingga sangat prospektif untuk dikembangkan.

Lonjakan harga cabai beberapa waktu lalu yang mencapai Rp 100 ribu lebih, membuat para petani tergiur untuk membudidayakannya. “Kalau melihat nilai ekonomis dari cabai dan bawang tentunya ini menjadi komoditas yang memang layak untuk dikembangkan. Namun yang perlu diingat adalah jangan sampai budi daya berlebihan yang malah membuat harga menjadi anjlok,” tukasnya.

Petani saat ini sudah banyak yang membudidayakan cabai sehingga ia malah  khawatir harga akan anjlok karena saat ini harga cabai sudah mencapai pada kisaran Rp25 ribu per kilogram. Harga bawang masih bertahan di Rp 30 ribu per kilogram.

Sentral produksi cabai yaitu daerah pegunungan seperti Tabanan, Badung,  Gianyar, Karangasem dan Buleleng untuk cabai besar. Kemudian cabai rawit itu ada di Buleleng, Karangasem, Klungkung dan Gianyar. Sedangkan untuk bawang yang selama ini terkonsentrasi di Bangli saat ini mulai dikembangkan di Karangasem, Klungkung dan Gianyar.

Di Klungkung hasilnya sangat bagus yaitu komoditas bawang Bali karet, bisa mencapai 25 ton per hektar. Dulu petani takut mengembangkan bawang, karena bawang itu seperti bayi membutuhkan perawatan ekstra dan tidak boleh ditinggalkan. Bawang ini cocok dikembangkan di daerah panas. “Kalau di Bangli di bawah itu iklimnya dingin dan kering jadi cocok untuk dikembangkan. Di daerah Bedugul itu dingin dan basah, jadi bawang mudah terserang jamur,” tukasnya. (pur)

 

BAGIKAN