DINAS Pertanian, Perkebunan dan Perhutanan  Kabupaten Bangli  telah mengembangkan padi organik di kawasan Desa Mengani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Program ini dicanangkan di lahan seluas 20 hektar dan terus dikembangkan dengan kegiatan penunjang berupa pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi.

Kabid Produksi Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Perkebunan dan Perhutanan Kabupaten Bangli, Wayan Tagel Sujana memaparkan, pertanian organik dikembangkan di daerah Mengani, Kecamatan Kintamani ini karena agroklimaknya mendukung. “Subak di Desa Mengani terisolir, sehingga sangat cocok dengan program organik tersebut. Untuk pertanian organik tidak hanya berpatokan pada pupuk dan insektisida namun juga pada kualitas air,” tuturnya. Air yang digunakan harus bebas dari kontaminasi bahan kimia, karena subak di sana hanya untuk di satu wilayah itu dan tidak melalui daerah lain sehingga dapat mendukung pertanian organik di sana.

Tujuan gerakan ini adalah agar petani  mampu mengolah lahan tanpa kesulitan sehingga kesejahteraan petani meningkat. Budi daya padi organik dipilih sebab unsur hara di tanah sawah Desa Mengani masih bagus, dan diharapkan hal ini makin memudahkan petani dalam mengolah sawah, sekaligus mampu menghasilkan padi orgaik yang melimpah, sehat untuk dikonsumsi masyarakat.
“Gerakan ini juga sebagai wujud kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian, menjadikan pertanian organik memerlukan perhatian baik tingkat produksi maupun konsumsi, pola hidup sehat yang akrab lingkungan sudah menjadi tren baru bahwa produk pertanian harus aman di konsumsi, kandungan nutrisi tinggi dan ramah lingkungan. Menyadari hal tersebut pemerinah Kabupaten Bangli berupaya mewujudkan peningkatan kedaulatan pangan, salah satu programnya adalah pengembangan desa organik padi di tahun 2016,” tukasnya.  (pur)

BAGIKAN