NPL cenderung Membengkak, Waspada Krisis Perbankan

61
Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter, IB Kade Perdana, M.M.

Denpasar (Bisnis Bali) – Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) perbankan (bank konvensional, BPR, bank syariah) cenderung membengkak, bahkan ada di atas 5 persen. Bila NPL terus membengkak dan membuat capital adequacy rasio (CAR) menjadi minus, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena rentan menimbulkan krisis keuangan atau perbankan.

Pemerhati perbankan yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter, IB Kade Perdana, M.M. di Sanur, Selasa (11/7) kemarin mengatakan, NPL yang cenderung terus membengkak atau terus bertambah besar tentu akan memerosotkan laba bank. Itu terjadi karena bank harus membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang pada akhirnya menggerus modal dan CAR-nya akan turun drastis.

“Kalau CAR menjadi minus tentu akan sangat membahayakan keberadaan bank sebagai bagian dari sistem keuangan menjadi terganggu dan terancam eksistensinya,” katanya.

Mantan Direktur Utama Bank Sinar (sekarang Bank Mantap) ini menerangkan, bila itu sampai terjadi akan berdampak pada stabilitas sistem moneter. Itu bisa membuat porak poranda dan mendorong terciptanya situasi krisis perbankan yang bisa menjelma menjadi krisis keuangan/moneter.

“Ini akan berpengaruh negatif terhadap kondisi makro ekonomi nasional dan bisa berubah menjadi krisis ekonomi sebagaimana yang pernah dialami pada krisis ekonomi tahun 1988-1989,” ujarnya.

Menurutnya, krisis memungkinan terjadi apabila tidak ada upaya pembinaan yang kondusif dan profesional, apalagi permodalan rata rata perbankan sampai saat ini masih kecil, kendatipun CAR ada di kisaran 15 persen hingga 20 persen dan CKPN nya kisaran 100 persen.

Sementara pemerhati perbankan lainnya, Kusumayani, M.M. mengatakan, bila melihat kondisi perbankan saat ini, sejatinya tidak memiliki persoalan serius. Keadaan perbankan pun masih tetap normal, meski NPL cenderung membengkak. (dik)

BAGIKAN