Twin Lake Festival 2017 Dibuka Promosikan Pertanian dan Pariwisata  

65
DIBUKA - Pembukaan Twin Lake Festival ditandai dengan pelepasan burung merpati. (ira)

Singaraja (Bisnis Bali) –  Pemkab Buleleng kembali menggelar Twin Lake Festival 2017. Festival yang mempromosikan potensi pertanian maupun pariwisata di Danau Buyan dan Danau Tamblingan ini dibuka oleh Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Kementerian Pariwisata, Prof. Dr. I Gde Pitana, Kamis (6/7). Festival ini didedikasikan untuk menggugah kesadaran pelestarian di kedua danau yang sering disebut danau kembar itu.

Acara yang dipusatkan di Danau Buyan, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada Buleleng, dihadiri Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, S.T, Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG., Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna, Sekkab Buleleng Ir. Dewa Ketut Puspaka, dan tamu undangan penting lainnya.

Hari pertama Twin Lake Festival, sejumlah kegiatan langsung dilaksanakan. Seperti Lomba cipta menu kudapan non-beras, lomba merangkai bunga, bondres kolaborasi Sengap dan Rare Kual, gemar makan buah, gemar makan ikan, serta gemar minum jus sayur. Serangkaian kegiatan itu dipusatkan di Danau Buyan, Desa Pancasari. Sementara di Danau Tamblingan, Desa Munduk, digelar kegiatan yoga massal.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, S.T., ditemui usai pembukaan Twin Lake Festival mengatakan, substansi awal Twin Lake Festival sudah hampir tercapai. Terutama dalam hal pemulihan. Menurutnya saat awal menjadi kepala daerah, kondisi Danau Buyan dan Danau Tamblingan, relatif rusak kondisinya.

“Di Buyan, di mana-mana ada gulma, pendangkalan dan sebagainya. Di Tamblingan, tekanan dari penduduk begitu keras. Masalah di Tamblingan sudah terjawab dengan dukungan desa adat. Khusus Danau Buyan, BKSDA Bali sudah siap memberi dukungan pengerukan untuk mengurangi pendangkalan danau,” katanya.

Selain itu, Universitas Udayana juga akan membantu memberi edukasi pertanian agar menjadi organik di Desa Pancasari, sehingga residu pestisida maupun pupuk kimia di lahan pertanian, tidak mengalir ke danau. “Kalau sudah stabil, baru Buyan dan Tamblingan ini ditata dengan baik, biar bisa jadi objek yang dinikmati. Bukan dibangun besar-besaran, karena ini wilayah konservasi dan resapan air,” katanya. (ira)

BAGIKAN