Waspadai Praktik Penipuan Berkedok Koperasi

69

Denpasar (Bisnis Bali) – Belajar dari pengalaman sebelumnya, koperasi yang menjanjikan keuntungan tinggi bagi anggotanya dan masyarakat umum, kemudian bermasalah. Dengan perkembangan di segala bidang saat ini, tanpa disadari banyak sekali produk-produk koperasi yang dibuat dengan sengaja untuk memenuhi keuntungan pribadi.

“Setelah mampu mengumpulkan dana, lantas kabur dengan membawa semua hasilnya. Oleh karena itu, anggota koperasi dan masyarakat tetap harus berhati-hati sehingga terhindar dari penipuan berkedok koperasi,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Patra, Kamis (6/7) di Denpasar.

Ia menambahkan, dalam perkembangannya makin canggihnya teknologi terkadang membuat masyarakat terlena. Apalagi ada pelaku usaha yang memberikan atau menjanjikan keuntungan tinggi, mampu mempengaruhi pemikiran masyarakat instan. Padahal sebenarnya, pelaku usaha tersebut memiliki keinginan untuk mengelabui masyarakat dengan cara membawa kabur semua dana yang diinginkannya.

”Kami selalu wanti-wanti pada masyarakat, apalagi anggota koperasi sendiri agar berhati-hati jika ada koperasi baik itu jenis KSP-USP dan koperasi jenis lainnya yang berjanji memberikan keuntungan tinggi. Kita sudah belajar dari pengalaman sebelumnya ada beberapa koperasi yang menjalankan program untuk mengeruk keuntungan pengelolanya saja,” katanya.

Ia menambahkan, setiap program yang dijalankan pengelola koperasi mesti disaring. Jika ada janji memberikan keuntungan berlipat perlu diwaspadai, sehingga tidak akan menjadi sasaran penipuan.

Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Nakertrans Kabupaten Bangli, Drs. I Dewa Gede Suparta, M.M., menegaskan, program apa saja yang dijalankan pengurus selaku pengelola koperasi harus mendapat persetujuan anggota. Biasanya pengurus akan meminta persetujuan saat rapat anggota tahunan (RAT). Oleh karena itu, peran anggota dalam memutuskan program koperasi mesti dilakukan saringan juga. Setiap program mesti ditelaah agar bermanfaat bagi anggota dan lembaga koperasi.

”Penting anggota memahami program yang dibuat pengurus koperasi, sehingga program yang baik dan positif dapat langsung ditetapkan. Sebaliknya, program yang negatif agar ditolak saja,” kata Dewa Suparta. (sta)

 

BAGIKAN