Mangupura (Bisnis Bali) – Pertanian kontemporer untuk memberikan nilai tambah bagi petani dipastikan tidak akan berhenti pada tataran wacana. Hal ini karena Dinas Pertanian dan Pangan Badung bersinergi dengan Dinas Pariwisata mulai menggarap pertanian kontemporer ini.

Hal ini dikemukakan Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung IGAK Sudaratmaja kepada sejumlah wartawan, Kamis (6/7) kemarin. “Pertanian kontemporer ini sudah mulai digarap,” katanya.

Menurut Sudaratmaja, pertanian kontemporer dipastikan memberikan nilai tambah bagi petani. Selain memperoleh hasil dari budi daya pertanian yang dilakoni, petani juga memperoleh tambahan pendapatan dari atraksi-atraksi pertanian yang dijadikan atraksi pariwisata.

Misalnya, atraksi matekap atau membajak sawah dengan menggunakan sapi atau kerbau, proses menanam padinya dan sebagainya. “Ini akan menjadi atraksi yang menarik bagi wisatawan,” katanya.

Saat ini, katanya, Dinas Pertanian Badung membuat sejumlah titik subak sebagai unit produksi, unit agribisnis dan agroindustri. “Jika ini berjalan, setiap unit subak ini akan memberikan nilai tambah bagi petani,” katanya.

Upaya lain untuk merealisasikan pertanian kontemporer ini dilakukan di desa wisata. Dengan tarif tertentu, turis yang datang bisa menikmati wisata agro termasuk memetik buah yang ada di dalamnya. “Salah satunya bisa memetik jambu kristal yang dibudidayakan oleh petani di Banjar Jempanang,” katanya.

Petani akan memperoleh share dari tarif tiket masuk setiap pengunjung. Ini sudah dirintis dengan harapan mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan khususnya di Badung. “Jika enam hari di Badung, 4 hari di Badung Selatan, 2 hari tamu diharapkan menghabiskan waktunya di Badung Utara dengan wisata agronya,” katanya.

Sementara itu, ditanya mengenai FBP mampu menarik minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian, Sudaratmaja mengangguk optimis. Dia menunjuk dua petani jambu dan kopi yang hadir. Keduanya masih sangat muda tetap mulai tertarik menekuni pertanian.

Hal ini tentu saja karena sektor pertanian mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat karena bisa digarap dari hulu hingga hilir. “Selain itu, FBP bisa menjadi ajang promosi untuk membuka pasar-pasar baru untuk produk pertanian,” katanya. (sar)

BAGIKAN