Mangupura (Bisnis Bali) – Sektor pertanian ternyata sangat menjanjikan, tentu saja jika digeluti secara serius. Sejumlah produk pertanian yang memberikan prospek cerah ini seperti jambu kristal tanpa biji, jambu biji merah, serta kopi.

Petani jambu kristal dari Banjar Jempanang, Plaga, Petang Made Sudarma yang hadir dalam jumpa media terkait Festival Budaya Pertanian (FBP) 2017, di press room Puspem Badung, Kamis (6/7) kemarin menyatakan, ketertarikannya untuk membudidayakan jambu kristal ini bermula sejak 2 tahun yang lalu. Saat itu dia sangat berangan-angan memiliki produk jambu tanpa biji dengan rasa yang sangat gurih dan renyah. Setelah mencari masukan ke sana ke mari, ketemulah dia dengan jambu kristal ini. “Selain bijinya jarang, jambu jenis ini juga sangat gurih dan renyah sehingga sangat diminati oleh masyarakat,” tegasnya.

Ditanya mengenai volume produksi, kata Sudarma, untuk jambu biji merah dari 500 pohon mampu menghasilkan 11 ton dalam waktu tiga bulan. Sementara untuk jambu kristal tanpa biji dari 200 pohon mampu menghasilkan 5 ton per enam bulan.

Produksi ini masih sangat jauh dari kebutuhan. “Permintaan jambu baik biji merah maupun kristal hampir 2 ton setiap hari. Karenanya, budi daya dua jenis jambu ini masih sangat prospektif,” katanya.

Walau begitu, dia berharap harga jambu bisa stabil karena saat ini masih terombang-ambing. Lewat FBP ini, dia berharap akan terbuka pasar-pasar baru sehingga harga jambu bisa stabil. “Kami berharap FBP ini mampu membukakan pasar bagi produk-produk pertanian di Badung,” katanya.

Hal sama diungkapkan Wayan Terima, salah seorang petani kopi yang juga hadir dalam jumpa media, Kamis kemarin. Saat ini kopi baik jenis robusta maupun arabika dibudidayakan di areal 80 hektar dengan dukungan lahan masyarakat 100 hektar di Banjar Jempanang.

 Setiap tahunnya, produksi kopinya mencapai 100 ton. Kopi inilah diolah mulai hulu hingga hilir sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi petani.

Mengenai pasar, Terima menyatakan ada dua yakni pasar lokal dan pasar luar. Untuk pasar lokal, produk kopi Jempanang sudah mampu menembus warung, swalayan maupun supermarket termasuk Tiara Dewata. Sementara pasar luar, kopi Jempanang sukses menembus pasar Jakarta, Semarang dan Bandung. (sar)

BAGIKAN