Likuiditas Ketat Bank agar Kembangkan Usaha Berbasis Efisien

33
Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra, Zulmi

Denpasar (Bisnis Bali) – Tren pengetatan likuiditas di industri perbankan masih membayang pada 2017 ini. Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali Nusa Tenggara berharap perbankan mengembangkan usaha berbasis efisien.

“Berbasis secara efisien supaya perbankan bisa bertahan dan mampu mengembangkan usahanya karena likuiditas di pasar makin ketat,” kata Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra, Zulmi di Sanur, Kamis (6/7) kemarin.

Menurutnya, tidak hanya likuiditas yang ketat, saat ini juga masih dibayangi rasio kredit bermasalah (NPL) yang tinggi. Rasio NPL yang tinggi akan menimbulkan biaya, begitu pula bila perbankan kekurangan likuiditas juga akan menimbulkan biaya.

“Umumnya perbankan untuk memenuhi likuiditas tersebut dengan meminjam ke tempat lain, tentunya dengan suku bunga yang lebih tinggi,” ujarnya.

Bisa juga bank mendapatkan dana dari masyarakat dengan meningkatkan dana pihak ketiga (DPK) yang tentunya bunga relatif rendah dan efisiensi lebih bagus. Untuk dapat menghadapi likuiditas yang ketat, Zulmi menyarankan, bank lebih kreatif memasarkan produk yang menarik dan disukai sesuai harapan masyarakat.

“Misalnya ketika masyarakat menempatkan dananya di bank ada layanan atau service yang menurut mereka sesuai,” terangnya.

Intinya bank harus bisa memahami kebutuhan masyarakat. Bila itu bisa terpenuhi, bank akan mampu tumbuh.

OJK juga menilai daya beli masyarakat di Bali yang menurun dinilai turut mempengaruhi kenaikan angka nonperforming loan baik di bank umum maupun bank perkreditan rakyat. Daya beli masyarakat tersebut juga mempengaruhi penjualan atau pelelangan aset dari debitur yang diambil alih bank karena tidak bisa segera laku atau membutuhkan waktu.

“OJK mengingatkan perbankan untuk menerapkan prinsip kehati-hatian sebelum memberikan pembiayaan kepada calon debitur untuk menekan angka kredit bermasalah,” paparnya.(dik)

BAGIKAN