KEMAJUAN pariwisata memberikan peluang besar kepada masyarakat yang memang jeli melihat kebutuhan dari sektor pariwisata. Seperti  kebutuhan bawang goreng di hotel-hotel yang terlihat sepele namun menjanjikan keuntungan bagi para pelakunya.

Made Ayu Suasdeni yang telah menggeluti bisnis bawang goreng  hingga puluhan tahun ini memaparkan kebutuhan bawang goreng di hotel-hotel cukup tinggi. “Saya melihat peluang bisnis bawang goreng di hotel ini dari suami yang bekerja di sebuah hotel di Nusa Dua, Badung,” tuturnya.

Karena tingginya permintaan bawang goreng tersebut, ia yang awalnya memulai menjadi pemasok bawang goreng hanya di satu hotel, bisnisnya terus berkembang hingga ia menjadi pemasok bawang goreng di sejumlah hotel besar di Badung. “Saya hanya mengandalkan mengupas, mengiris dan menggoreng bawang secara manual, tanpa menggunakan mesin,” ucapnya.

Bisnis bawang goreng ini diakui cukup menjanjikan, namun sayangnya harga bawang yang tidak menentu dan kerap mengalami kenaikan menjadi kendala utama dari bisnis tersebut. Saat harga bawang merah melambung, permintaan bawang goreng pasti akan menurun drastis yang tentunya akan berdampak pada pendapatannya.

Tidak hanya memenuhi kebutuhan hotel, bawang goreng juga cukup banyak permintaan di pasar tradisional. “Kalau di pasar-pasar tradisional dan warung-warung, kemasan bawang goreng berbeda dengan di hotel. Untuk di pasar tradisional, kebutuhan masyarakat tidak terlalu banyak sehingga dikemas dalam ukuran kecil. Kalau di hotel, bawang goreng dikemas dalam ukuran satu kilogram,” tukasnya. (pur)

BAGIKAN