Bawang Merah Tanaman Strategi Tekan Inflasi

26

BUDI DAYA bawang merah mulai banyak diminati karena cukup menjanjikan kesejahteraan bagi para petani. Prof.  Dr. Ir. I Wayan Suparta, M.S., Ketua Lab Pengelolaan Penyakit Terpadu, Fakultas Pertanian Universitas Udayana memaparkan, budi daya bawang merah memang perlu digalakkan karena bawang merah termasuk tanaman strategis dalam menekan laju inflasi selain cabai.

Bawang merah memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Dibandingkan dengan beras, tanaman bawang merah dan cabai mempengaruhi inflasi paling besar dari sektor pertanian. Kebutuhan bawang merah juga sangat tinggi. “Untuk Gianyar saja membutuhkan 100 ton bawang merah per bulan. Kalau petani bisa produksi bawang merah dalam jumlah besar, kita tidak perlu ketergantungan dengan pasokan dari luar lagi,” tukasnya.

Saat ini, produksi bawang merah belum mampu memenuhi kebutuhan di Bali saja. Meski sekarang telah disiapkan lahan 800 hektar di Bangli, di Kedisan dan Songan sebagai sentra bawang merah. “Di sana ada satu orang petani yang dulunya nyakap, sekarang sudah punya enam hektar lahan untuk bertanam bawang dengan pendapatan per bulan hingga Rp 300 juta,” tandasnya.

Jadi budi daya bawang merah ini memang mampu memberikan kesejahteraan bagi petani.

Tanaman bawang itu per dua bulan atau satu musim tanam satu hektar bisa menghasilkan Rp 250 juta hingga Rp 300 juta. Jika bawang dikombinasikan dengan tanaman cabai bisa mencapai Rp 350 juta per hektar per musim tanam. Tanaman padi paling tinggi Rp 30 juta dengan waktu panen lebih lama.

“Petani di Songan sepanjang tahun menanam bawang terus, tidak pernah diganti dengan komoditas lain, sepanjang bawang tersebut tidak terkena hama penyakit,” ucapnya. (pur)

BAGIKAN