Permintaan UPK Meningkat BI Optimis tak Picu Inflasi

21

Denpasar (Bisnis Bali) – Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mengakui terjadi  peningkatan penarikan uang oleh perbankan menjelang libur panjang Lebaran, khususnya permintaan uang pecahan kecil (UPK) tahun emisi (TE) terbaru 2016. Kendati permintaan UPK mengalami peningkatan, keadaan ini tidak akan membuat uang yang beredar di Bali meningkat sehingga memicu inflasi.

“UPK TE 2016 yang banyak dicari kebanyakan dibawa pulang saat masyarakat mudik ke luar Bali. Jadi uang yang beredar di Bali tidak mengalami lonjakan atau menimbulkan inflasi,” kata Kepala KPw BI Bali, Causa Iman Karana di Renon, Minggu (2/7).

Kendati demikian, pihaknya tetap mewaspadai jika uang yang beredar digunakan transaksi di Bali, sehingga BI berkoordinasi dengan seluruh stakeholder termasuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar menjaga stok dan pasokan untuk memenuhi permintaan masyarakat dalam upaya menjaga inflasi.

Dari sisi transaksi kebutuhan uang, Pak Cik biasa ia disapa mengungkapkan, penarikan uang oleh perbankan H-3 sebelum Lebaran total mencapai Rp 2 triliun, naik dari tahun lalu Rp 1,7 triliun. Total kas keliling BI di dalam kota mencapai Rp 10,4 miliar dan kas keliling luar kota mencapai Rp 15,8 miliar. Adanya peningkatan karena kebutuhan keuangan meningkat untuk transaksi ekonomi masyarakat serta keinginan masyarakat memiliki uang rupiah terbaru 2016, selain terjadi perubahan minat uang kecil di kalangan masyarakat jelang Lebaran tahun ini.

Jelang Lebaran tahun-tahun sebelumnya UPK yang banyak diminati masyarakat adalah pecahan Rp 1.000, Rp 2.000, hingga Rp 5.000. “Pada Lebaran 2017 ini, UPK pecahan Rp 10.000 yang paling banyak diminati,” ujarnya. (dik)

BAGIKAN