SAYUR tat soi atau oleh masyarakat kita disebut sawi pagoda, karena bentuknya yang seperti pagoda terbalik menjadi salah satu komoditas holtikultura yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Masih satu keluarga dengan sawi hijau dan pak choy, sawi pagoda harga jualnya bisa mencapai Rp 40 ribu per kilogram.

Menurut Ir. I Ketut Agung Sudewa, M.Si., Kepala Stasiun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, sawi pagoda ini sudah banyak dikembangkan di kota-kota besar seperti Jakarta. “Masyarakat perkotaan saat ini cenderung memiliki bahan makanan yang kaya nutrisi, meski harga jualnya jauh lebih tinggi ketimbang produk serupa,” ucapnya.

Sawi pagoda ini dari segi nutrisi memiliki keunggulan dibandingkan dengan keluarga sawi lainnya.

Sawi pagoda pada dasarnya memiliki vitamin C yang sangat tinggi dan nutrisi yang sama dengan sawi lainnya namun ia memiliki keunggulan karena mengandung alkaloid, yodium dan kalium yang tinggi. Semua bagian tanaman mulai dari akar, daun dan bunganya bisa dimanfaatkan.

Untuk budi daya pagoda bibit perlu disemai terlebih dahulu karena pagoda daunnya tumbuh mengembang seperti kol yang memiliki krop, sehingga memerlukan ruang lebih banyak. “Kalau menanam sawi hijau kita tidak perlu semai dan langsung ditanam di lahan. Pagoda, karena dia tumbuh melebar bisa sampai 40 cm jadi perlu jarak tanam,” paparnya. Untuk penyemaian dibutuhkan waktu sekitar 10 hari, bibit sudah bisa dipindahkan ke lahan.

Untuk menghasilkan sawi pagoda yang bagus lahan harus diolah terlebih dahulu. “Sama seperti budi daya lainnya tanah harus digemburkan, kemudian dibuat bedengan sesuai musim dan diberi pupuk kandang. Baru bibit yang sudah siap tanam dipindahkan,” ucapnya. Saat musim kemarau bedengan lebih rendah, kalau musim hujan bedengan lebih tinggi untuk mengatur drainase. Untuk jarak tanam, sebaiknya beri jarak 40 x 40 cm.

“Sekali penggunaan pupuk kandang 2-5 ton per hektar bisa digunakan untuk 2-3 kali panen. Setelah itu baru perlu ditambah lagi dengan pupuk kandang,” tandasnya. Sementara selama masa tanam untuk tanaman sayur yang dimanfaatkan daunnya, hanya bisa dilakukan sekali saja dengan sistem pengocoran.

Sawi pagoda tergolong sayur daerah beriklim sedang dengan suhu 25-28 derajat celsius, dengan ketinggian di atas 700 dpl. “Bila ditanam di dataran rendah pertumbuhan korpnya kurang bergerombol. Tetapi kalau masyarakat ingin menanam sebaiknya digunakan shading,” katanya.(pur)

BAGIKAN