TOMAT merupakan jenis sayur-sayuran, namun masyarakat kerap menyebutnya sebagai buah. Ada sekitar 400 jenis tomat di dunia, salah satunya adalah tomat cherry. Tomat cherry yang berasal dari Peru ini, tengah dikembangkan di Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung sebagai unggulan dan menjadikannya sebagai komoditas yang telah diakui one village one product (OVOP) oleh Kementerian Koperasi.

Ketua Kelompok Tani Mertanadi, Desa Plaga, I Wayan Supariyasa memaparkan, kelompok tani memilih untuk membudidayakan tomat cherry karena orientasi mereka ingin menghasilkan produk yang berkualitas dan berbeda dari produk pertanian pada umumnya dengan kata lain tidak banyak yang produksi. “Dengan menghasilkan produk berkualitas dan belum banyak yang membudidayakan pasar dan harga produk sangat terjamin. Dengan demikian, kami dapat menentukan harga, bila konsumen tidak mau membeli dengan harga yang kami tawarkan, ya tidak kami berikan,” tandasnya. Berbeda dengan tomat biasa yang harganya sangat terpengaruh permintaan dan jumlah barang yang ada di pasar. Harga tomat biasa kerapkali anjlok terutama saat panen raya.

Tomat cherry memiliki keunggulan dari segi bentuknya yang kecil menyerupai buah cherry dan rasanya yang manis, sehingga buah yang satu ini kerap kali digunakan sebagai pelengkap salad atau dikonsumsi mentah. “Untuk pemasaran saat ini kami lebih banyak mengirimnya ke Jakarta karena harganya lebih tinggi. Sisanya baru kami pasarkan ke hotel dan restoran yang ada di Bali,” tuturnya. Jadi tidak ada produk petani plaga yang sampai ke pasar tradisional, karena memiliki kualitas unggulan.

Tomat cherry tumbuh baik di dataran tinggi dengan ketinggian 600-1.200 meter dpl, dengan suhu 16-27 derajat celcius. Meski demikian tomat cherry sangat rentan terhadap kabut dan hujan, sehingga lebih cocok ditanam saat musim kemarau, kecuali petani mau menggunakan green house dalam budidaya dapat dilakukan sepanjang tahun.

Untuk budi daya ada dua tahapan yang harus dilakukan yaitu penyemaian bibit dan penanaman. “Kalau penyemaian bibit dilakukan di kelompok tani kemudian disalurkan melalui koperasi. Untuk penyemaian bibit ini membutuhkan waktu 10-14 hari sudah bisa ditanam, dan diberikan kepada anggota untuk ditanam,” terangnya.

Pembuatan bibit ini sama dengan penyemaian pada umunya, yaitu siapkan media penyemaian berupa tanah yang disampur pupuk kompos dalam polybag. Kemudian buat lubang dan tanam benih dan timbun dengan tanah dan basahi media semai. Untuk pemeliharaan siram media tanam setiap pagi dan sore. Setelah bibit siap tanam, setiap anggota diberikan sekitar 500 bibit.

Sebelum ditanam, petani akan mengolah tanah terlebih dahulu, menggemburkan tanah dan mencampur dengan pupuk kandang serta membuat bedengan dan menyiapkan ajir. Lima ratus bibit yang dibagikan tersebut membuthkan lahan seluas 1,5 are. “Setelah  dua minggu ditanam harus  dilakukan pemupukan  kembali. Lakukan perawatan dengan pemupuk dan penyemprotan rutin. 50-60 hari setelah tanam dapat dilakukan panen perdana,” ucapnya. Setelah panen produk akan dibawa petani ke koperasi, untuk dilakukan proses sortir  kemudian dipaking dan dipasarkan, karena pemasaran hasil prosuksi petani merupakan tugas dari Koperasi Kelompok Tani Mertanadi.

Dari 500 pohon tersebut, sekali panen bisa dihasilkan 50-100 kg tomat cherry. Panen dilakukan setiap 3 hari sekali. Sementara  pohon tomat cherry bertahan 2-3 bulan bahkan bisa lebih tergantung cuaca dan pemeliharaan yang dilakukan petani. Dari budi daya 500 pohon tomat cherry tersebut petani bias memperoleh keuntungan bersih setelah dipotong bibit, pemeliharaan dan biaya pemasaran yaitu berkisar Rp 1,5 juta-Rp 4 juta.

“Saat ini kebutuhan pasar untuk tomat cherry masih sangat tinggi. Kami sudah mampu memenuhi 90 persen permintaan pelanggan,” tukasnya. Karena kelompok tani hanya menggarap pasar atas, sementara pasar tradisional pihaknya tidak menggarapnya karena terbentur produksi, serta harga tomat cherry yang memang sangat tinggi sehingga belum sesuai untuk pasar tradisional. (pur)

BAGIKAN