Tanpa Perencanaan Suksesi Pengusaha di Bali Baru Tahap Generasi Kedua  

17
Kabid Perdagangan Diperindag Kota Denpasar, Laxmy Saraswaty sedang memberikan arahan pentingnya mempersiapkan generasi penerus memimpin perusahan keluara pada 30 pelaku UKM-IKM dan wirausaha muda se-Denpasar. (sta)

Denpasar (Bisnis Bali) – Perusahaan keluarga di Bali masih digarap oleh pengusaha generasi kedua. Berbeda dengan perusahaan negara lainnya, pengusaha sudah pada tahap generasi keempat. Maka dari itu, kelemahan kepemimpinan perusahaan keluarga belum memiliki perencanaan suksesi yang matang, meliputi sikap, keinginan, komitmen, kepercayaan dan kepemimpinan.

‎Generasi kepemimpinan yang perlu disiapkan memiliki karakter suksesor. Di dalamnya ada pengalaman bisnis, jangka waktu keterlibatan dan kemauan mengambil alih kepemimpinan perusahaan keluarga. Hal ini ditegaskan ‎Narasumber Seminar Peningkatan Kemampuan Pedagang Kecil dan Menengah, Dr. Luh Kadek Budi Martini, S.E., M.M., yang membawakan materi ‎Family Business in Smart City, Senin (12/6).

Kegiatan ini diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar, yang diikuti  30 UKM-IKM dan wirausaha muda se-Denpasar selama sehari di Gedung Sewaka Dharma Lumintang.

Menurut Luh Budi Martini, ‎perusahaan keluarga di Indonesia 88 persen swasta nasional. Bisnis perusahaan keluarga yang sukses adalah yang berlanjut dari generasi ke generasi. Namun banyak perusahaan keluarga mengalami kegagalan ketika ditangani generasi selanjutnya yang belum memiliki persiapan perencanaan suksesi. Namun ketika generasi selenjutnya dipersiapkan matang, maka perusahaan akan makin sukses.

Berdasarkan fenomena empiris, lanjut Budi Martini, suksesi kepemimpinan perusahaan merupakan faktor penting dalam keberlanjutan usaha, sehingga kepemimpinan perusahaan keluarga tidak selamanya berakhir pada kegagalan. Maka, katanya, perlu persiapkan dan merencanakan suksesi kepemimpinan guna menghindari kegagalan dalam transformasi kepemimpinan.

”Nilai-nilai dalam perusahaan keluarga ada kejujuran, kredibelitas, kepatuhan terhadap hukum, menjaga kehormatan, dan visi manajemen puncak, kualitas, kerajinan, kemauan kerja keras, sikap pelayani, tanggungjawab, keluwesan, toleran terhadap stress, kesejahteraan, keinovatifan dan otonomi,’’ jelasnya. (sta)

BAGIKAN