Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nomor  27/M-DAG/PER/5/2017  tentang penetapan harga acuan untuk sembilan komoditas bahan  pokok pembelian di petani dan harga acuan  penjualan di konsumen, dinilai sejumlah kalangan produsen atau petani timpang. Kenapa?

KEMENDAG terus  menjalankan  strategi  dan  kebijakan  untuk menjamin  ketersediaan,  stabilitas,  dan  kepastian  harga  barang  kebutuhan  pokok,  khususnya  pada saat  puasa  dan  menjelang  Lebaran  2017.  Setelah  melakukan  dialog  dengan  pelaku  usaha, peninjauan  pasar,  dan  menetapkan  harga  eceran  tertinggi  sejumlah  bahan  pokok,  Kemendag kini   menerbitkan  Peraturan  Menteri  Perdagangan  Nomor  27/M-DAG/PER/5/2017  tentang Penetapan  Harga  Acuan  Pembelian  di  Petani  dan  Harga  Acuan  Penjualan  di  Konsumen.  Aturan  ini mulai  berlaku  pada  16  Mei  2017  untuk  sembilan  harga  komoditas  bahan  pokok.

Tujuan dari kebijakan tersebut di antaranya untuk menjamin ketersediaan, stabilitas,  dan  kepastian  harga  beras, jagung,  kedelai,  gula,  minyak  goreng,  bawang  merah,  daging  sapi,  daging  ayam  ras,  dan  telur ayam  ras. Dikeluarkannya Permendag  No.27  Tahun  2017,  maka  Perusahaan  Umum  Badan  Urusan Logistik  (Bulog)  akan  mengacu  pada  ketentuan  ini  dalam  melakukan  pembelian  dan  penjualan untuk  tiga  komoditas,  yaitu  beras,  jagung,  dan  kedelai.   Untuk  Bulog  dan atau  badan  usaha  milik  negara  (BUMN)  lainnya  akan  mengacu  pada ketentuan  ini  dalam  melakukan  pembelian  dan  penjualan  untuk  enam  komoditas,  yaitu  gula, minyak  goreng,  bawang  merah,  daging  sapi,  daging  ayam  ras,  dan  telur  ayam  ras.

Namun kebijakan tersebut dalam realisasinya di lapangan menurut salah seorang produsen telur ayam ras, Darma Susila di Desa Buruan Kabupaten Tabanan mengungkapkan, tidak terealisasi dengan baik, bahkan terkesan timpang. Betapa tidak, di pasaran (tingkat pedagang) memang kebijakan HET tersebut mampu menekan harga sejumlah komoditi saat ini. Namun, di tingkat produsen atau petani, harga jual yang bisa dinikmati petani terkesan liar disesuaikan dengan kondisi produksi saat ini. Contohnya, terlihat dari  harga telur ayam ras di tingkat peternak yang sesuai dengan ketentuan HET dipatok Rp 18.000 per kg, namun dalam realisasinya di lapangan harga telur ayam di tingkat peternak malah jauh di bawah HET saat ini.

“Padahal dalam kebijakan tersebut juga diatur  jika  harga  di  tingkat  petani  berada  di  bawah  harga acuan pembelian dan harga di tingkat konsumen berada di atas harga acuan  penjualan, maka Mendag  dapat  menugaskan BUMN untuk melakukan  pembelian  sesuai  ketentuan  yang  berlaku,” tuturnya. (man)

BAGIKAN