BUDI DAYA kunyit yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena pemeliharaan sangat sederhana dan hasil yang luar biasa. Saat panen raya, para petani juga tidak perlu khawatir harga akan anjlok, karena kunyit dapat dikeringkan bahkan dibuat menjadi bubuk kunyit yang tahan lama dan harga jual juga lebih tinggi.

Dr. Ir. I Ketut Arnawa, M.P., dosen Fakultas Pertanian Universitas Maha Saraswati Denpasar memaparkan pengolahan pascapanen akan sangat membantu petani dalam pengendalian harga, terutama saat panen raya. “Saat produksi berlebihan dan melebihi kebutuhan pasar, otomatis harga akan anjlok. Jadi petani harus mengendalikan jumlah produk yang dipasarkan dengan cara mengolahnya,” paparnya.

Untuk mengolah kunyit ini sangat mudah dan tidak memerhatikan teknologi yang terlalu sulit. “Kunyit yang berlebihan cukup dicuci bersih kemudian diiris tipis-tipis dan dijemur hingga benar-benar kering. Memang membutuhkan waktu berhari-hari untuk menjemur di bawah terik matahari,” tandasnya.

Dengan proses seperti ini saja, petani sudah dapat mengendalikan harga kunyit di pasaran. Selain itu harga jualnya jauh lebih tinggi.

Harga kunyit basah biasanya berkisar Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogramnya. “Setelah kunyit di iris tipis-tipis atau dirajang dan dikeringkan harganya berubah menjadi Rp 13.000-Rp 15.000 di pasaran,” ungkapnya. Dengan setengah proses pascapanen saja sudah terjadi kenaikan harga. Kunyit kering ini dapat diolah kembali menjadi komoditas yang siap pakai dan bahkan telah diekspor. (pur)

BAGIKAN